News Update :

Pengertian-Pengertian dasar Tentang Kemanusiaan

Published by : Unknown on Tuesday, May 20, 2014 | 4:21 PM

Tuesday, May 20, 2014

Diketik ulang dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP Cak Nur)


Ringkasan 

Telah disebutkan di muka, bahwa manusia adalah puncak ciptaan, merupakan makhluk yang tertinggi dan adalah wakil dari Tuhan di bumi. Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (Hanief) (30:30). “Dlamier” atau hati nurani adalah pemancar keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran. Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang mutlak atau kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (51:56, 3:156).

Fitrah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakannya dari makhluk-makhluk yang lain. Dengan memenuhi hati nurani, seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.

Kehidupan dinyatakan dalam kerja atau amal perbuatannya (19:105, 53:59). Nilai-nilai tidak dapat dikatakan hidup dan berarti sebelum menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan amaliah yang kongkrit (61:2-3). Nilai hidup manusia tergantung kepada nilai kerjanya. Di dalam dan melalui amal perbuatan yang berperikemanusiaan (fitrah sesuai dengan tuntutan hati nurani) manusia mengecap kebahagiaan, dan sebaliknya di dalam dan melalui amal perbuatan yang tidak berperikemanusiaan (jihad) ia menderita kepedihan (16:97), 4:111).

Hidup yang penuh dan berarti ialah yang dijalani dengan sungguh-sungguh dan sempurna, yang didalamnya manusia dapat mewujudkan dirinya dengan mengembangkan kecakapan-kecakapan dan memenuhi keperluan-keperluannya. Manusia yang hidup berarti dan berharga ialah dia yang merasakan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kegiatan-kegiatan yang membawa perubahan kearah kemajuan-kemajuan, baik yang mengenai alam maupun masyarakat, yaitu hidup berjuang dalam arti yang seluas-luasnya (29:6).

Dia seorang yang ikhlas, artinya seluruh amal perbuatannya benar-benar berasal dari dirinya sendiri dan merupakan pancaran langsung daripada kecenderungannya yang suci yang murni (2:207, 76:89). Suatu pekerjaan dilakukan karena keyakinan akan nilai pekerjaan itu sendiri bagi kebaikan dan kebenaran, bukan karena hendak memperoleh tujuan lain yang nilainya lebih rendah (pamrih) (2:264). Kerja yang ikhlas mengangkat nilai kemanusiaan pelakunya dan memberinya kebahagiaan (35:10). Hal itu akan menghilangkan sebab-sebab suatu jenis pekerjaan ditinggalkan kebahagiaan hidup manusia, tidak ada kebahagiaan sejati tanpa keikhlasan dan keikhlasan selalu menimbulkan kebahagiaan.

Hidup fitrah ialah bekerja secara ikhlas yang memancar dari hati nurani yang hanief atau suci.

Download Full Pengertian-Pengertian dasar Tentang Kemanusiaan via 4shared.com

comments | | Read More...

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional dan Reformasi Dalam Kesadaran Mental

Oleh Averroes F Piliang

Kekacauan yang terjadi di masyarakat Indonesia sekarang ini bukanlah dari sebuah hal yang baru, melainkan berasal dari masyarakat Indonesia sendiri. Kekacauan yang timbul bukanlah sesuatu hal yang baru, ia masih berjalan dalam proses hingga saat ini.  Yaitu sebuah kekacauan yang berawal dari persoalan interpretasi tujuan sebagai manusia yang hidup di negara yang tercinta ini. Efek dari hal tersebut, manusia Indonesia (terkhususnya umat Islam) menurut Husein Heriyanto, mengalami disorientasi tujuan dan inferiority complex (ketidakpercayaan diri) yang mengakibatkan paradigma manusia Indonesia hanya mampu menyerap saja, tanpa melihat nilai-nilai agama dan budaya bangsa ini.

Bangkitnya suatu negara bukan hanya ditinjau dari segi tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan dilihat dari berkembangnya peradaban dan kebudayaan manusia yang tinggal di negara tersebut. Maka, jelaslah sudah bahwa bangkitnya suatu bangsa dan negara dilihat dari seberapa beradab manusia yang ada di negara tersebut, bukan banyaknya peralatan teknologi yang ada di daerah negara tersebut, melainkan apakah kebijakan dari pemerintah dan orang yang ada memiliki adab yang tinggi yang tentunya melihat nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.

Persoalan adab dan budaya ini terlahir dari sebuah kesadaran mental yang ada pada manusia, Kesadaran mental yang tentunya diperlukan untuk meneruskan hasil-hasil perjuangan bangsa. Kesadaran mental akan membangkitkan bangsa ini dari tidurnya yang lama, yang tentunya akan  me-reformasi karakter-karakter manusia yang sedang tidur dalam mimpinya. Dengan ini, manusia Indonesia akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, yaitu nilai yang diperlukan untuk membangun bangsa ini.

Sejarah yang telah dituliskan oleh bangsa ini, diawali dengan kebangkitan proses pendidikan yang bertujuan untuk menempah karakter manusia Indonesia. Kemudian, reformasi terjadi, bersamaan dengan hari kebangkitan nasional. Di bulan Mei, sebuah bulan yang secara khusus memiliki makna hijrah (reformasi dan bangkit) menuju yang lebih baik lagi. Reformasi dan bangkit menuju sebuah dunia yang diisi oleh insan-insan kamil, yang bertanggung jawab terhadap masyarakat adil makmur yang diridhai oleh Allah SWT.

Landasan historis ini merujuk kepada bahwa khazanah bangsa ini sangat kaya akan manusia yang berjuang demi nilai-nilai kemanusiaan. Khazanah yang membuat bangsa ini sadar, bahwa bangsa ini muncul bukan karena diberi melainkan berasal dari Ikhitiar yang tidak pernah lepas dari nama kebenaran dan keadilan. Khazanah bangsa ini merupakan bangsa yang menjunjung nilai Ketuhanan.
Orang besar menempuh jalan ke arah tujuan melalui rintangan dan kesukaran yang hebat - Muhammad SAW
Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka - Ir. Soekarno
Untuk mencapai cita-cita yang tinggi, manusia (pahlawan) melepaskan nyawanya pada tiang gantungan, mati dalam pembuangan, tetapi senantiasa menyimpan dalam hatinya yang luka wajah tanah air yang duka - Drs. Mohammad Hatta
Betapa pedihnya seorang manusia yang merdeka, yang hidup dalam dunia yang diciptakan oleh orang lain - Muhammad Iqbal
Terbanglah Garudaku, singkirkan kutu-kutu disayapmu - Berkibarlah benderaku, singkirkan benalu di tiangmu; jangan ragu dan jangan takut, tunjukkan pada dunia, bahwa sesungguhnya kita mampu - Iwan Fals
Bangsa ini merdeka karena berjuang melawan perbudakan. Berjuang untuk melawan apa yang disebut oleh bangsa Belanda, Inlander. Bangsa yang menjunjung tinggi nilai Ketuhanan, nilai-nilai yang melawan perbudakan, kasta, feodalisme dan hedonism, melawan apa yang disebut dengan tirani dan riba yang dibuat oleh manusia-manusia neo-imperialisme dan kolonialisme. Berjuang secara nyata bahwa hari ini manusia Indonesia sedang mengalami neo-imperalisme dan kolonialisme yang tampak nyata pada segala aspek sosial, politik, pendidikan dan budaya. Hari ini, mari sama-sama kita mengepalkan tangan untuk melawan neo-imperialisme dan kolonialisme. Di hari yang hijrah ini, di hari yang berbangkit ini, dan di hari yang reformasi ini.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 02 Mei, Selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, Selamat Hari Reformasi 14 sampai 21 Mei. Mari menjunjung tinggi Kebenaran dan Keadilan, demi terciptanya Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dengan cara Jihad Jihad Jihadlah Engkau Selalu Sampai Akhir Perjuanganmu. Bersyukur dan Ikhlas, serta selalu berusaha untuk menyampaikan kebenaran. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.
comments | | Read More...

Afarensis dan Simpanse

Oleh Ardi Yusman

Menurut skema “indah” yang diajukan oleh evolusionis, evolusi internal dari genus Homo adalah sebagai berikut: Pertama Homo Erectus, kemudian apa yang disebut sebagai Homo Saphiens “kuno” dan manusia Neanderthal (Homo Saphiens Neanderthalensis), dan akhirnya manusia Cro-Magnon (Homo Saphiens Saphiens). Akan tetapi semua pengelompokan ini sebenarnya hanyalah variasi dan ras-ras yang khas dalam keluarga manusia. Perbedaan antara mereka tidak lebih besar daripada perbedaan antara suku Inuit dengan suku Afrika, atau suku pygmi dengan orang Eropa.

Alasan utama evolusionsi mendefenisikan Homo Erectus sebagai “primitf” adalah kapasitas otak tengkorak mereka yang berkisar antara 900 – 1.100 cc, yang lebih kecil daripada rata-rata manusia modern, dan alis tebal mereka yang menonjol. Akan tetapi, banyak orang yang hidup saat ini di bumi yang memiliki kapasitas tengkorak yang sama dengan Homo Erectus (suku pygmi, contohnya) dan ras lain yang memiliki alis yang menonjol (penduduk Australia, misalnya). Ada fakta yang secara umum disetujui bahwa perbedaan pada kapsitas tengkorak tidak selalu menunjukkan perbedaan dalam kecerdasan dan kemampuan. Kecerdasan lebih bergantung pada organisasi internal otak, daripada volumenya. Fosil yang telah membuat Homo Erectus terkenal di seluruh dunia adalah fosil dari manusia Peking dan manusia Jawa di Asia. Namun, kemudian disadari bahwa kedua fosil ini tidak dapat dipercaya.

Kebudyaan berlayar Homo Erectus menjadi salah satu fenomena yang dianggap bahwa Homo Erectus merupakan salah satu nenek moyang manusia sekarang. “Ancient Mariners: Early humans were much smarter than we suspected” (Pelaut purba: manusia kuno lebih pintar dari yang kita duga). Menurut artikel New Scientist terbitan 14 Maret 1998 ini, manusia yang dinamai Homo Erectus oleh evolusionis, telah melakukan pelayaran sejak 700 ribu tahun yang lalu. Tentu saja, mustahil menganggap manusia yang mempunyai pengetahuan, teknologi, dan budaya berlayar sebagai “makhluk purba”.
comments | | Read More...

Pohon kekerabatan yang dibuat-buat

Published by : Unknown on Sunday, May 4, 2014 | 6:46 PM

Sunday, May 4, 2014

Oleh Ardi Yusman

Disadur dari berbagai sumber

Pernyataan Darwinis (para pendukung teori Darwin) mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk hidup yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari lima atau enam juta tahun yang lalu, dinyatakan  bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sungguh dibuat-buat ini, ditetapkanlah empat kelompok dasar sebagai berikut:
  1. Australopithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)
  2. Homo habilis
  3. Homo erectus
  4. Homo saphiens

Genus yang dianggap sebagai nenek moyang manusia yang mirip kera tersebut oleh evolusionis (para pendukung teori evolusi Darwin) digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti “kera dari selatan”. Australopithecus, yang tidak lain adalah jenis kera purba yang telah punah, ditemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebih besar dan kuat (tegap), sementara yang lain lebih kecil dan rapuh (lemah).
"Adanya kesamaan yang jelas di antara keduanya adalah sebuah tanda yang nyata bahwa Australopithecus Afarensis itu spesies kera biasa, tanpa sifat-sifat manusia"
Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai “Australopithecus > Homo Habils > Homo Erectus > Homo Saphiens”, evolusionis secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya. Akan tetapi, penemuan terbaru ahli paleoanthropology mengungkap bahwa Australopithecines, Homo Habilis dan Homo Erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada saat yang sama.

Semua spesies Australopithecus adalah kera punah yang mirip dengan kera masa kini. Volume tengkorak mereka adalah sama atau lebih kecil daripada simpanse masa kini. Terdapat bagian menonjol pada tangan dan kaki mereka yang mereka gunakan untuk memanjat pohon, persis seperti simpanse saat ini, dan kaki mereka terbentuk untuk mencengkram dan bergelantung pada dahan pohon. Banyak karakteristik yang lain – seperti detail pada tengkorak mereka, dekatnya jarak antara kedua mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang, dengan lengan yang panjang, dan kaki yang pendek – merupakan bukti bahwa makhluk ini tidaklah berbeda dengan kera masa kini. Namun demikian, evolusionis menyatakan bahwa, meskipun Australopithecine memiliki anatomi kera, mereka berjalan tegak seperti manusia, tidak seperti kera pada umumnya.

Sebuah teori baru menyatakan bahwa genus Australopithecus bukanlah cikal bakal ras manusia… Hasil ini didapat dari satu-satunya wanita yang diberi kewenangan untuk meneliti, St W573 berbeda dari teori normal berkenaan dengan nenek moyang manusia : ini meruntuhkan pohon kekerabatan horminid. Primata besar, yang dianggap sebagai nenek moyang manusia, telah dihilangkan dari susunan pohon kekerabatan ini… Australopithecus dan spesies Homo (manusia) tidak muncul dalam cabang yang sama. Nenek moyang langsung manusia masih menunggu untuk ditemukan.
"Homo Erectus dan Manusia. Tonjolan besar alis pada tengkorak Homo Erectus, dan ciri-ciri seperti dahi yang condong ke belakang, bisa dilihat dalam sejumlah ras zaman sekarang, seperti orang-orang pribumi di berbagai belahan dunia"
Sebuah majalah ilmiah terkenal di Perancis, Science et Vie, mengakui ada dua kebenaran mengenai tidak adanya nenek moyang manusia yang berasal dari kera. Majalah perancis ini mengakui hal tersebut dengan menerbitkan judul sampul majalah mereka berupa “Selamat Tinggal Lucy” pada terbitan di tahun 1999 pada bulan Februari, dan mereka menegaskan bahwa Australopithecus tak bisa dijadikan sebagai nenek moyang manusia.
"Penemuan ilmiah telah membuat anggapan evolusionis tentang Lucy, yang kali pertama dijadikan sebagai contoh penting genus Australopithecus sama sekali tidak berdasar
Hal tersebut berdasarkan dua penemuan penting yaitu:
  1. Fosil yang disebut sebagai Homo Habilis sebenarnya bukan tergolong genus Homo, atau manusia, tetapi tergolong Australopithecus, atau kera.
  2. Homo Habilis dan Australopithecus adalah makhluk yang berjalan membungkuk ke depan – jadi bisa dikatakan mereka memiliki kerangka seekor kera. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan manusia.


comments | | Read More...

Dasar Dasar Kepercayaan NDP HMI

Diketik ulang dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP Cak Nur)


Ringkasan

Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya.

Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk-bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang benar. Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur.

Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai dan pangkal nilai itu haruslah kebeneran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah SWT.

Tuhan itu ada, dan secara mutlak hanyal Tuhan. Pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian hakekat Tuhan yang sebenarnya. Namun, demi kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya tentang Ketuhanan dan tata nilai yang bersumber kepada-Nya. Oleh sebab itu, diperlukan sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak bertentangan dengan insting dan indera.

comments | | Read More...

Teori Evolusi Darwin, "Sebuah Asal Usul Manusia Yang Terbantahkan"

Published by : Unknown on Monday, April 28, 2014 | 8:57 PM

Monday, April 28, 2014

Oleh Ardi Yusman

Disadur dari beberapa sumber

Charles Darwin seorang biologist mengajukan teori evolusi manusia dalam pernyataannya yaitu  manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama. Hal tersebut terungkap dalam buku Charles Darwin yang berjudul The Descent of Man, yang dipublikasi pada tahun 1871. Sampai saat ini, para pengikut Teori Evolusi Darwin telah mencoba untuk mendukung pernyataannya. Tetapi, meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, pernyataan mengenai “evolusi manusia” tidak adanya dukungan ilmiah yang berdasarkan penelitian dan penemuan yang nyata dalam bentuk fosil.

Sumber gambar mrpetsblogs.blogspot.com
Kebanyakan masyarakat biasa tidak menyadari kenyataan ini, dan berfikir bahwa teori yang dikemukakan oleh Darwin mengenai evolusi manusia didukung oleh banyak bukti yang kuat dan ilmiah. Salah satu penyebab adanya pendapat yang keliru ini adalah bahwa pesoalan ini sering dibahas dalam media serta proses pendidikan dihadirkan sebagai fakta yang terbukti ilmiah. Namun, para ahli dalam masalah ini menyadari bahwa tidak ada landasan ilmiah bagi pernyataan Darwin tentang teori evolusi manusia. David Pilbeam, ahli paleoanthropology dari Harvard University, mengatakan “Jika anda mengundang seorang ilmuwan dari bidang ilmu yang lain dan menunjukkan padanya sedikitnya bukti yang kita miliki ia tentu akan mengatakan”, “Lupakan saja; itu tidak cukup untuk diteruskan!”.
Tiada petunjuk ilmiah bagi pernyataan bahwa manusia berevolusi. Yang diajukan sebagai “bukti” tidak lebih dari ulasan sepihak atas sedikit fosil.
Dan William Fix, seorang penulis sebuah buku penting dalam bidang paleoanthropology berkomentar “Seperti yang telah kita lihat, ada banyak ilmuwan dan orang-orang populer saat ini yang memiliki nyali untuk mengatakan bahwa tidak ada keraguan tentang bagaimana manusia berasal. Tentunya, andai saja mereka memiliki bukti…

Pernyataan evolusi ini, yang “miskin akan bukti” yang secara ilmiah tidak masuk akal, memulai dengan adanya pohon kekerabatan manusia yang serumpun dengan kelompok kera dinyatakan dengan bentuk satu genus tersendiri, yaitu Australopithecus. Sehingga, menurut pernyataan ini, Australophitecus secara bertahap, diawali dengan kemampuan untuk berjalan tegak dan membesarnya kapasitas volume otak, ia melewati serangkaian proses perubahan dalam jangka waktu yang lama atau evolusi hingga mencapai tahapan manusia sekarang (Homo Sapiens). Tetapi, fakta fosil tidak mendukung scenario dari teori ini, meskipun ilmu pengetahuan menyatakan bahwa semua bentuk peralihan itu ada, tetapi antara manusia dan kera tidak dapat dilalui dengan menggunakan jejak fosil saja. Ernst Mayr, salah satu pendukung utama teori evolusi abad 20, berpendapat dalam bukunya One Long Argument bahwa “khususnya (teka-teki) bersejarah seperti asal usul kehidupan atau Homo Sapiens, adalah sangat sulit dan bahkan mungkin tidak pernah menerima penjelasan akhir yang memuaskan”.

comments (1) | | Read More...

Pancasila

Published by : Unknown on Tuesday, April 15, 2014 | 9:39 PM

Tuesday, April 15, 2014

Oleh Egyfaldi Biamenta

Pancasila merupakan ideologi dasar bangsa Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata Sansekerta yaitu “panca”  berarti lima dan “sila” berarti prinsip atau asas. Pancasila dirumuskan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya yang berisi nilai-nilai dasar bagi suatu bangsa dalam mendirikan sebuah negara, seperti: Kebangsaan, Internasionalisme, Mufakat, Dasar Perwakilan dan Permusyawaratan, Kesejahteraan, dan Ketuhanan. Pancasila memiliki beberapa arti filosofis bagi bangsa Indonesia, yaitu:

Pancasila sebagai dasar negara. Setiap negara di dunia ini memiliki dasar negara yang dijadikan landasan dalam menyelenggarakan pemerintah negara. Pancasila dijadikan sebagai ideologi dan dasar negara untuk mengatur penyelenggaraan negara Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan isi pembukaan UUD 1945 alinea 4 yang memiliki esensi penyelenggaraan negara yang berbentuk negara Republik Indonesia yang di dasarkan kepada Pancasila. Dengan demikian, kedudukan Pancasila sebagai dasar negara termaktub secara yuridis konstitusional dan ketatanegaraan di dalam pembukaan UUD 1945. 

Pancasila sebagai pandangan hidup. Setiap bangsa di dunia membutuhkan pandangan hidup agar dapat berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan pandangan hidup inilah, suatu bangsa dapat menghadapi dan menyelesaikan persoalan secara tepat. Tanpa memiliki pandangan hidup, suatu bangsa dapat terombang ambing dalam menghadapi persoalan yang timbul di dalam masyarakat maupun persoalan dunia. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan perwujudan dari nilai-nilai budaya milik bangsa Indonesia sendiri yang diyakini kebaikan dan kebenarannya. Sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila berarti konsepsi dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan dalan menjalani hidup.

Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Setiap bangsa di dunia memiliki kepribadian masing-masing. Kepribadian, artinya gambaran  tentang sikap dan prilaku, atau amal perbuatan yang khas dan menjadi pembeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Ciri-ciri khas kepribadian bangsa Indonesia tercermin dalam sila-sila pancasila, yaitu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang:
  • Berketuhanan yang maha esa
  • Berkemanusiaan yang adil dan beradab
  • Berjiwa persatuan dan kesatuan bangsa
  • Berjiwa musyawarah mufakat untuk mencapai hikmat kebijaksanaan
  • Bercita-cita mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia


Gambar 1. Pancasila (http://www.danielnugroho.com/wp-content/uploads/pancasila.jpg)

Sila-sila di dalam Pancasila seperti yang dapat dilihat pada gambar 1, merupakan suatu sistem nilai yang pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang sistematis dan hirarkis, sehingga meskipun dijelaskan secara rinci dalam sila-sila, namun kesemuanya itu tidak dapat dilepaskan keterkaitanya satu sama lain. Adapun nilai yang terkandung dalam setiap sila adalah sebagai berikut :

A. Nilai Ketuhanan. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dengan nilai ini, dinyatakan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius dan bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama.

B. Nilai Kemanusiaan. Nilai Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral hidup. Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu makhluk berbudi yang memiliki potensi pikir, rasa, karya dan cipta. Kemanusiaan merupakan esensi dan identitas manusia karena martabat kemanusiaannya. Adil mengandung arti, bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas norma-norma yang objektif dan tidak subjektif apalagi sewenang-wenang. Beradab berasal dari kata adab yang berarti budaya, sehingga beradab artinya berbudaya.

C. Nilai Persatuan. Nilai Persatuan Indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia.

D. Nilai Kerakyatan. Nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan berarti bahwa rakyat dalam menjalankan kekuasaannya melalui sistem perwakilan dan keputusan-keputusannya diambil dengan jalan musyawarah yang dipimpin oleh pikiran yang sehat serta penuh tanggung jawab, baik kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada rakyat dan wakilnya. Kerakyatan berasal dari kata Rakyat, yang berarti sekelompok manusia yang berdiam di suatu wilayah tertentu. Hikmat kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa. Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk merumuskan dan atau memutuskan suatu hal yang berdasarkan kehendak rakyat, hingga tercapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat. Perwakilan adalah suatu sistem dalam arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara. Antara lain dilakukan dengan melalui badan-badan perwakilan.

E. Nilai Keadilan. Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berarti bahwa setiap orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Sesuai dengan UUD 1945 makna keadilan sosial mencakup pula pengertian adil dan makmur. Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat disegala bidang kehidupan, baik materil maupun spiritual.

Pancasila mengandung nilai luhur yang dapat membawa Indonesia menjadi bangsa dan negara yang damai, sejahtera, dan maju apabila diterapkan sepenuhnya. Walaupun saat ini terdapat banyak kekurangan di sana-sini, disadari atau tidak, nilai-nilai Pancasila masih hidup di sekitar kita.  Meskipun banyak orang yang telah melupakan Pancasila, namun tidak sedikit pula yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhurnya.  Ini dapat dilihat dari masih banyaknya rakyat Indonesia yang memelihara toleransi dan kerukunan beragama, bersatu dalam menghadapi permasalahan bangsa, termasuk berbagai bencana alam yang menimpa kita, membantu sesama, membela kebenaran dan semakin banyak pula yang mengusahakan tercapainya keadilan sosial bagi rakyat Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain sebagainya.

Pancasila mengandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan, musyawarah, dan persatuan. Mungkin pelaksanaan Pancasila saat ini masih jauh dari sempurna, namun apabila kita mampu menanamkan nilai-nilai itu dalam hati dan pikiran kita, kemudian mulai menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan tidak mungkin semua tujuan dan cita-cita yang terdapat di dalam Pancasila dapat tercapai.

comments | | Read More...

Eksistensi nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan di dalam Pancasila

Published by : Unknown on Monday, April 14, 2014 | 8:19 PM

Monday, April 14, 2014

Oleh Averroes F Piliang

Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang memiliki 5 sila, yaitu:
  1. Ketuhanan yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pancasila merupakan suatu sistem yang mengandung nilai-nilai yang merupakan satu kesatuan dan hirarki, setiap sila tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena masing-masing memiliki keterkaitan. Adapun nilai Ketuhanan yang terkandung pada sila pertama dan nilai kemanusiaan yang terkandung pada sila kedua memunculkan suatu kondisi yang dilematis diantara kaum pancasilais, agamis dan humanis dikarenakan adanya sebuah realita bahwa jika memang menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila, kondisi Indonesia saat ini seharusnya sudah lebih baik, namun kenyataan yang ada adalah sebaliknya.

Berdasarkan NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan) HMI dalam bab I dijelaskan bahwa, manusia dalam hidupnya memerlukan suatu bentuk kepercayaan yang dapat melahirkan tata nilai yang dapat menopang hidup dan budayanya. Untuk itu dibutuhkan suatu ajaran yang didalamnya terdapat suatu sistem kepercayaan (agama) yang dapat membawa manusia kepada jalan keselamatan. Agama mengajarkan manusia bahwa seluruh aktivitas manusia memiliki nilai kehidupan. Hal tersebut tampak di dalam Islam yang secara hakikat berbicara “sesungguhnya kita itu miliknya dan akan kembali kepada-Nya”. Artinya hal ini merujuk kepada nilai kemanusiaan yang tidak akan muncul jika nilai Ketuhanan tidak muncul. 

Lantas pertanyaan berikutnya adalah apa benang merah antara agama, kemanusiaan dan pancasila itu sendiri. Hubungan nan misterius itu sebenarnya tampak pada konsep hakikat manusia merupakan ciptaan dari Allah SWT. Sehingga muncul sebuah konsep sang pencipta dan yang diciptakan. Karena kemutlakan sang pencipta dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau kepada pengertian dan hakikat sang penipta. Hal tersebut tampak dengan begitu banyaknya kepercayaan akan hal ketuhanan sehingga manusia menjadi bingung dalam mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kegiatannya dan berimbas kepada nilai kemanusiaan. 

Faktor sejarah, kultural dan peradaban yang terjadi di dunia adalah permasalahan perbudakan yang mengarah kepada klaim yang mengatasnamakan kepada ketuhanan, hal tersebut pernah terjadi pada zaman mesir kuno. Dengan bermodalkan azas ketuhanan yang seperti itu, manusia mampu memberikan perintah kepada manusia yang lain dimana perintah tersebut tidak memiliki nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa pancasila itu dibangun atas nilai Ketuhanan yang ditujukan kepada nilai kemanusiaan. Karena agama itu memang berasal dari Allah SWT, tetapi ditujukan kepada manusia.

Maka, sudah sewajarnya para ahli mengatakan bahwa pancasila yang terdiri dari 5 sila tersebut merupakan dasar dan tujuan manusia Indonesia (hanya Indonesia). Pancasila dapat dianalogikan sebagai sebuah angka 10000, dimana angka 1 adalah nilai ketuhanan dan angka 0 adalah nilai-nilai yang lain. Angka tersebut akan memiliki arti jika nilai-nilai ketuhanan dijunjung tinggi. Dalam artian, mau seberapa panjang angka nol tersebut, tidak akan memiliki arti apabila tidak diawali oleh sebuah angka 1 yaitu nilai-nilai ketuhanan (Buya HAMKA).

Ada sebuah kemiripan antara pancasila di Indonesia dengan datangnya Islam di dunia. Islam di dunia datang untuk memberantas faham mengenai polytheisme dan animisme. Maka, muncullah sikap monotheisme yaitu dengan kalimat persaksian. Oleh karena itu, kalimat persaksian mengandung maksud pengecualian dan menegasikan permasalahan ketuhanan, tiada tuhan selain Allah. Sedangkan pada pancasila dalam sila pertama bertujuan untuk memberantas pola polytheisme dan animisme yang terjadi pada masyarakat Indonesia. Hal tersebut tampak pada budaya dan adat istiadat masyarakat Indonesia yang memiliki begitu banyak bentuk kepercayaan. Sehingga masyarakat Indonesia diharuskan menganut satu kepercayaan, dan dalam hal ini persoalan tersebut adalah agama.

Maka, pancasila dalam hal ini mengikuti sumber dari segala sumber yaitu pemahaman tentang Islam melalui dasar-dasar ketuhanan. Ketuhanan Yang Maha esa, dalam pengertian tidak ada pemaksaan kehendak kepada setiap orang dalam hal kepercayaan. Hanya diwajibkan untuk memilih, mengikuti, mendalami, mengimani, mengamalkan dan mempelajari satu bentuk kepercayaan, tidak boleh lebih dari satu kepercayaan pada persoalan agama. 

Salah satu perbedaan antara pancasila dan Islam tersebut adalah wilayah kebermanfaatannya. Islam memiliki sifat tidak terbatas (unlimited) karena islam merupakan rahmatan lil ‘alamin sedangkan pada pancasila hanya terbatas bagi bangsa Indonesia, namun dalam hal ini bukan merupakan dikotomi. Mengapa demikian? Karena kalau kita hanya memandang Islam sebagai ideologi atau paradigma berpikir, maka sangatlah kecil sekali Islam di dunia ini. Telah kita ketahui sebelumnya bahwa Islam itu merupakan sumber dari segala sumber, budaya dan perilaku. 

Disamping itu, Islam berasal dari Tuhan tetapi ditujukan kepada manusia dalam rangka mewujudkan khalifatul fil ardh. Sedangkan pancasila merupakan suatu hal yang berasal dari manusia untuk manusia itu sendiri namun dibuat berlandaskan agama sebagai sumber dari segala sumber. Tetapi, yang terjadi di lapangan adalah permasalahan mempersamakan antara urusan aqidah dan mu’amalah. Hal inilah yang merupakan benang merah di kalangan masyarakat Indonesia mengenai persoalan pancasila.

comments | | Read More...

Inti NDP "Beriman, Berilmu dan Beramal"

Published by : Unknown on Wednesday, April 2, 2014 | 8:49 PM

Wednesday, April 2, 2014

Oleh Admin Dunia Insan Kamil


Ringkasan Inti NDP "Beriman, Berilmu dan Beramal"
Kalau teman-teman melihat NDP, tentu saja dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Yang pertama “Dasar-Dasar Kepercayaan”, “Kemanusiaan”, “Kemerdekaan Manusia”, “Ikhtiar dan Takdir”, ini tentu saja banyak sekali unsur dan tulisan H. Agus Salim; Filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawakkal misalnya. Kemudian “Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan”, atau “Individu dan Masyarakat”, “Keadilan Sosial” dan “Keadilan Ekonomi”, “Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan”, lalu kesimpulan dan penutup. Saya tidak akan menerangkan semua NDP. “Dengan demikian sikap hidup manusia menjadi sangat sederhana. Yaitu beriman, berilmu dan beramal”. Ya, biasa, kalau suatu ungkapan yang sudah menjadi klise, itu tidak menggugah apa-apa. Apa makna beriman, berilmu, beramal, saya kira itu telah menjadi kata-kata harian.

Saya kira hidup beriman, tentu saja personal, pribadi sifatnya. Setiap manusia itu harus menyadari tidak bisa tidak harus punya nilai. Oleh karena itu iman adalah primer. Iman adalah segalanya. Oleh karena iman disitu adalah sandaran nilai kita, ini kemudian diungkapkan secara panjang lebar dalam bab Dasar-Dasar Kepercayaan. Kenapa manusia memiliki kepercayaan. Di situ, misalnya, kita menghadapi satu dilema; satu dilema pada manusia, yang dikembangkan dalam Syahadat La ilaha ilallah. Tiada Tuhan melainkan Allah SWT. Di sini kita bagi dalam dua, nafyu dan itsbat. Artinya negasi dan afirmasi

Sebab bangsa Muslim yang pertama yang bukan orang Arab, itu yang besar adalah orang Persi. Memang sebelum itu orang Syiria, Mesir, semua bukan Arab. Tetapi mungkin karena latar belakang kultural mereka itu tidak begitu kuat, maka mereka ter-Arabkan sama sekali, Sehingga orang Mesir sekarang sudah tidak ada lagi. Mereka semua menjadi orang Arab. Termasuk Khadafi yang keturunan Kartago, itu juga menjadi orang Arab. Kalau dari sejarah, Khadafi itu lebih dekat dengan orang-orang Yunani, orang Romawi dan sebagainya sebagai keturunan Kartago. Libya bukan tempatnya orang-orang Kartago dulu dan mereka itu lebih banyak orang-orang Quraisy. Tetapi mereka menjadi Arab dan berbahasa Arab. Maka, yang disebut dengan bangsa-bangsa Arab itu, secara darah sebetulnya sebagian besar bukan orang-orang Arab, tetapi orang yang berbahasa Arab.

Bangsa Muslim yang pertama bukan Arab dan sampai sekarang tidak berhasil di-Arabkan adalah bangsa Persi. Padahal secara geografis itu paling dekat dengan dunia Arab. Mengapa? Karena latar belakang kebudayaan Persi yang besar itu paling dekat dengan dunia Arab. Mengapa? Karena latar belakang kebudayaan Persi yang besar itu, sehingga mereka tidak bisa di-Arabkan. Oleh karena itu, bangsa Persi-lah yang pertama kali menghadapi masalah terjemahan ini sebabg Islam datang dengan berbahasa Arab. Sehingga mazhab Hanafi yang Abu Hanifah itu sendiri orang Persi – berpendapat, sembahyang dalam terjemahan itu boleh. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Persi selalu menggunakan Khoda untuk Allah. Kita mengetahui bahwa bahasa Persi itu adalah satu rumpun dengan bahasa Jerman, Inggris dan Sansekerta. Sehingga Baitullah misalnya, mereka terjemahkan menjadi Khanih-e Khoda. Maka dari itu, ketika zaman modern sekarang ini dan umat Islam mulai menyebar ke mana-mana termasuk ke negeri-negeri Barat, maka ada persoalan, yaitu kalau Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, misalnya, bagaimana menerjemahkan? Apakah Allah harus diterjemahkan menjadi God, ataukah tidak. Itu sudah ada dua pendapat. Misalnya, The Meaning of The Glorious Qur’an tidak menerjemahkan perkataan Allah. Sama sekali tidak. Tetapi sebaliknya Yusuf Ali yang orang Pakistan, yang tafsirnya juga diterbitkan oleh Rabithah Alam Islami di Mekkah, menerjemahkan Allah dengan God sehingga dalam terjemahan dia, itu tidak ada sama sekali perkataan Allah, karena jadi God semua. Dan Khomeini yang sekarang mendirikan negara Islam di Iran, konstitusinya dalam versi bahasa Inggris, menerjemahkan la ilaaha illa-Allah, dengan there is no god but God. Ini penting mengapa ulasan ini agak panjang karena ada implikasinya. Yaitu salah satu problem kita di Indonesia ini ialah bahwa tradisi intelektual Islam kita masih muda sekali, sehingga orang sering kehilangan jejak, akhirnya bingung. Buku Yusuf Ali yang saya beli dari Mekkah yaitu ketika saya mengadakan kunjungan ke beberapa negara ke Timur Tengah diberi pengantar dari sekjend Rabithah Alam Islami. Kita bisa melihat sekarang di sini misalnya perkataan la ilaaha illa-Allah bagaimana diterjemahkan. Begitu juga dalam tafsir Muhammad Asada tau dalam Konstitusinya Khomeini. Kita boleh tidak setuju dengan ajaran Syi’ah, tetapi jangan phobia. Justru bobot NDP sebetulnya menghilangkan itu. Sedangkan Islam itu sendiri berada di tengah-tengah umat manusia. Jadi, kita ini harus muslim di tengah umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, mungkin saudara-saudara juga tahu bahwa saya selalu mengatakan tidak setuju dengan sensor. Orang boleh dengan tidak setuju dengan suatu paham, tetapi jangan menyensor.

Karena itu sebenarnya, di Indonesia kata Allah itu diterjemahkan menjadi kata Tuhan. Menurut saya bisa, Khomeini saja bisa kok, mengapa kita tidak bisa. Itu Yusuf bisa, bahkan itu diterbitkan oleh Rabithah Alam Islami. Jadi, tiada Tuhan dengan t kecil (tuhan), kecuali Tuhan itu bisa. Waktu itu saya tidak tahu, bahwa Buya Hamka pernah menerangkan hal ini, sehingga ketika saya terlibat dalam polemic itu ada seorang teman yang bersuka rela memberika kepada saya copy dari polemik Buya Hamka dengan seseorang melalui surat menyurat. Dan sekarang sudah diterbitkan dalam sebuah buku, yaitu Hamka Menjawab Masalah-masalah Agama.

Dalam psikologi agama ada yang disebut dengan convert complex. Convert artinya orang yang baru saja memeluk agama. Lalu complex, perasaan sebagai agamawan baru. Misalnya, di masyarakat ada saja bekas tokoh yang kurang senang pada agama, lalu menjadi fundamentalistik sekali.

Nah, karena tradisi intelektual kita itu begitu muda, begitu rapuh, kita sering kehilangan jejak. Kemudian bingung. Ada cerita menyangkut dua orang Minang: H. Agus Salim dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sudah tahulah Takdir Alisyahbana, seorang yang mengaku sebagai orang yang modern dan sangat rasionalistik, oleh karena itu, dia pengagum Ibnu Rusd. Dia selalu bilang, dunia ini kan persoalan pertengkaran antara Ghazali dan Ibnu Rusd. Karena di dunia Islam Ghazali yang menang dan di dunia Barat, Ibnu Rusd yang menang, maka akhirnya Ibnu Rusd yang menjajah Ghazali. Jadi Indonesia dijajah Belanda itu sebetulnya Ghazali dijajah Ibnu Rusd, menurut Takdir Alisyahbana. Karena apa? Ghazali mewakili mistisisme, intuisisme, sedangkan Ibnu Rusd mewakili rasionalissme.

Ada betulnya juga, meskipun tidak seluruhnya. Suatu saat pak Takdir konon menggugat H. Agus Salim. Katanya begini, “Pak Haji, pak haji ini kan orang terpelajar sekali, masa masih biasa sembahyang. Artinya, kok masih mempercayai agama?’ Lalu dibilang oleh H. Agus Salim, “Maksud saudara apa?”, “Maksud saya, sebagai orang terpelajar saya tidak membenarkan sesuatu kecuali saya paham betul”. Betul memang begitu, Al-Qur’an sendiri menyatakan begitu. Akan tetapi begini, kita kan terbatas, karena terbatas kalau rasio kita sudah pol begitu, maka sebagian kita serahkan kepada iman.” Jadi, masalah iman itu adalah bagian daripada hidup dan itu adalah kewajiban daripada rasional kita. Rupanya Takdir belum puas dengan jawaba itu. Lalu Salim membuat jawaban yang lucu dan benar. Di bilang begini, “Begini aja deh, Takdir kan orang Minang. Kan suka pulang ke Minangkabau, pulang kampung, naik apa?” “naik kapal” jawab Takdir. Rupanya waktu itu belum bisa naik pesawat, pesawat belum begitu banyak. “Nah”, kata Agus Salim, “Kamu naik kapal itu menyalahi prinsipmu, kamu tidak akan menerima sesuatu kecuali kalau paham seluruhnya. Jadi asumsinya, kalau kamu naik kapal, adalah kalau sudah paham tentang seluruhnya yang ada di dalam kapal itu. Termasuk bagaimana kapal dibikin, bagaimana menjalankan, bagaimana kompasnya, bagaimana ini dan sebagainya. Nah, begitu ketika kamu menginjakkan kaki ke gealada kapal Tanjung Priok, itu kan sudah ada masalah iman. Kamu percaya kepada nakhoda, kamu percaya kepada orang yang bikin kapal ini bahwa ini nanti tidak pecah di Selat Sunda dan kamu kemudian tenggelam. Percaya, percaya dan semua deretan kepercayaan.

Agus Salim melanjutkan, “Sedikit sekali yang kamu ketahui tentang kapal. Paling-paling bagaimana tiketnya dijual di loketnya saja yang kamu tahu. Pembuatan tiket juga kamu tidak tahu” katanya. Lalu Salim bilang begini, “Seandainya kamu konsisten dengan jalan pikiran kamu hai Takdir, mustinya kamu pulang ke Minang itu berenang. Ya, begitu sebab berenang itu yang paling memungkinkan usahamu. Itu saja masih banyak sekali masalah. Bagaimana gerak tangan kamu saja mungkin kamu tidak paham, “katanya, lalu ini yang menarik,”Nanti kalau kamu berenang di Selat Sunda kamu di ombang-ambing ombak dan kamu akan berpegang pada apa saja yang ada. Dalam keadaan panik, kamu akan berpegang pada apa saja yang ada. Untung kalau kamu ketemu balok yang mengambang. Akan tetapi, kalau kamu ketemu ranting, itupun akan kamu pegang. Ketemu barang-barang kuning juga kamu pegang”. Itu kata Agus Salim.

comments | | Read More...

Ringkasan Latar Belakang Perumusan NDP

Published by : Unknown on Friday, March 21, 2014 | 8:27 PM

Friday, March 21, 2014


Disunting dari Hasil-Hasil Kongres Depok 5-10 November 2010
Sebetulnya tidak ada masalah apabila kita sebagai orang muslim berpedoman pada ajaran Islam, memandang segala sesuatu dari sudut ajaran Islam, termasuk terhadap masalah-masalah kemasyarakatan, kenegaraan Pancasila.

Saya disebut-sebut sebagai orang yang merumuskan NDP, meskipun diformalkan oleh Kongres Malang. Itu terjadi 17 tahun lalu. Jadi, sebagai dokumen organisasi, apalagi organisasi mahasiswwa, NDP itu sudah cukup tua. Oleh karena itu, ada teman berbicara tentang NDP dan kemudian mengajukan gagasan misalnya untuk tidak mengubah-mengembangkan dan sebagainya, maka saya selalu menjawab, dengan sendirinya memang mungkin untuk diubah dalam arti dikembangkan.

NDP, Kesimpulan Suatu Perjalanan

Saya ingin bercerita sedikit. Mungkin ada gunanya walaupun cerita ringan saja. Yaitu bagaimana NDP itu lahir.

Ahmad Wahib dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam yang sangat kontroversial itu menulis bahwa saya dalam tahun 1968 diundang untuk mengunjungi universitas-universitas di Amerika yang waktu itu merupakan pusat-pusat kegiatan mahasiswa. Dan kepergian saya Amerika itu mengubah banyak sekali pendirian saya. Dan kepergian saya ke Amerika itu mengubah banyak sekali pendirian saya, begitu kata Wahib dalam bukunya, maaf saja, tidak benar. Jadi, di sini Ahmad Wahib salah. Memang perlawatan yang dimulai dari Amerika itu banyak sekali mempengaruhi saya, tetapi bukan pengalaman di Amerika yang mempengaruhi saya, tetapi bukan pengalaman di Amerika yang mempengaruhi saya, melainkan justru di Timur Tengah.

Pokoknya dari semua tempat itu saya mengadakan diskusi macam-macam. Dan konklusinya begini; saya kecewa terhadap tingkat intelektualitas kalangan Islam di Timur Tengah saat itu. Sehingga saya lalu ingat Buya Hamka, ketika suatu saat Buya minta izin kepada K.H. Agus salim untuk pergi ke Timur Tengah, belajar. Jawab K.H. Agus Salim seperti yang diumat dalam Gema Islam dahulu dan sebagainya, ”Malik, kalau kamu pergi ke Mekkah atau Timur Tengah, boleh saja. Kamu akan fasih berbahasa Arab barangkali. Tetapi paling-paling kamu akan jadi lebai, kalau pulang. Tetapi sebaliknya kalau kamu ingin mengetahui Islam secara intelek, lebih baik di sini. Belajar sama saya”. Dan saya setuju dengan pendapat K.H. Agus Salim.

Setelah pulang dan haji, saya ingin menulis sesuatu tentang nilai-nilai dasar Islam. Seluruh keinginan saya untuk bikin NDP saya curahkan pada bulan April, untuk bisa dibawa ke Malang pada bulang Mei. Jadi, NDP itu sebetulnya merupakan kesimpulan saya dan perjalanan yang macam-macam di Timur Tengah selama tiga bulan lebih itu. Jadi, sama sekali salah kalau Ahmad Wahib mengatakan itu adalah pengaruh kunjungan di Amerika. Begitulah singkatnya cerita. Namanya saja NDP, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan. Tentu saja bahannya itu macam-macam. Saya ingin menceritakan, mengapa namanya NDP. Sebetulnya teman-teman pada waktu itu dan saya sendiri berpikir untuk memberikan nama NDI, Nilai-Nilai Dasar Islam. Akan tetapi, setelah saya berpikir, kalau disebut Nilai-Nilai Dasar Islam, maka klaim kita akan terlalu besar. Kita terlalu mengklaim inilah Nilai-Nilai Dasar Islam. Oleh karena itu, lebih baik disesuaikan dengan aktivitas kita sebagai mahasiswa. Lalu saya mendapat ilham dari beberapa sumber. Pertama adalah Willy Eicher, seorang ideology Partai Sosial Demokrat Jerman yang membikin buku, The Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Socialism. Nilai-Nilai Dasar dan Tuntutan-tuntutan Asasi Sosialisme Demokrat. Nah, ini ada “nilai-nilai dasar”. Kemudian “perjuangan”-nya dari mana? Dan karya Syahrir mengenai ideologi sosialisme Indonesia yang termuat dalam Perjuangan Kita. Dan ternyata Syahrir juga tidak orisinal. Dia agaknya telah meniru dari buku Hitler, Mein Kamf. Jadilah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) itu. Kemudian saya bawa ke Malang, ke Kongres IX, Mei 1969. Tetapi di sana tentu saja agak sulit dibicarakan karena persoalannya demikian luas sehingga tidak mungkin suatu Kongres membicarakannya. Lalu diserahkan pada kami bertiga; Saudara Endang Saifudin Anshari, Sakieb Mahmud dan saya sendiri. Nah, itulah kemudian lahir NDP, yang namanya diubah lagi oleh Kongres ke-16 HMI Menjadi NIK (Nilai Identitas Kader).

Download Full "Latar Belakang Perumusan NDP" File .pdf via 4shared.com
comments | | Read More...

Material Komposit

Published by : Unknown on Wednesday, March 5, 2014 | 8:40 PM

Wednesday, March 5, 2014

Material komposit adalah bahan yang diperoleh melalui kombinasi bahan yang berbeda untuk mencapai sifat yang masing-masing bahan tidak ada. Material komposit dibuat bertujuan untuk menciptakan bahan komposit yang memiliki sifat-sifat yang berasal dari bahan pembuatnya. Bahan komposit dibuat melalui cara yang berbeda, ada yang mengalami reaksi secara alami, perubahan fasa atau melalui fenomena lainnya. Contohnya adalah serat karbon yang diperkuat oleh polimer. Pembuatan material komposit dapat disesuaikan dengan mencari bahan-bahan yang diinginkan sifatnya dan diperkuat dengan sifat bahan yang diinginkna. Oleh karena sifatnya yang memiliki karakteristik tertentu, komposit merupakan material rekayasa yang paling komersial.

Material komposit sering didapat dengan menggabungkan dua jenis bahan yaitu, pengisi atau filler dan pengikat atau polymer matrix. Filler pada umumnya sering digunakan serat yang bertujuan untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu, sedangkan polimer bertujuan bukan hanya sebagai pengikat melainkan sifat yang diinginkan juga digunakan.

Kebanyakan pembuatan bahan komposit hanya bertujuan untuk mendapatkan berat yang lebih ringan, kekuatan yang lebih tinggi, tahan terhadap korosi dan memiliki biaya pembuatan yang murah. Secara umum, komposit dibuat untuk mendapatkan material yang karakteristik dari kekuatan mekanis yang tinggi dengan biaya yang murah. Padahal, kemampuan material komposit bukan hanya pada bidang kekuatan mekanis, melainkan bisa juga digunakan dalam material listrik. Hal ini yang menjadi daya jual dalam perkembangan material komposit sebagai salah satu material pengganti logam yang sifatnya konduktor.

Rekayasa material komposit sebagai bahan pengganti material listrik sekarang ini telah banyak digunakan. Dengan mengambil konsep komposit konduktif membentuk material elektrik yang banyak kita kenal sekarang ini. Konsep ini sering kita jumpai dalam material seperti sensor. Perkembangan ini dapat kita lihat pada begitu banyaknya jenis sensor yang telah dibuat seperti cadmium-sulfida yang dijadikan sebagai bahan sensor cahaya; carbon nano tube yang sering dijadikan sebagai bahan pengganti konduktor; serat karbon yang juga memiliki sifat mekanik dan elektrikal yang baik.
comments | | Read More...
 
Tentang Dunia Insan Kamil | Hubungi Kami | Disclaimer
| Copyright © 2013. Dunia Insan Kamil . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger