News Update :
Showing posts with label Ke-HMI-an. Show all posts
Showing posts with label Ke-HMI-an. Show all posts

Tantangan dan Perjuangan HMI

Published by : Unknown on Wednesday, April 1, 2015 | 4:19 PM

Wednesday, April 1, 2015

Oleh Egyfaldi Biamenta
Organisasi ini berazaskan Islam, bersifat independent, memiliki status sebagai organisasi mahasiswa berfungsi sebagai organisasi kader, dan berperan sebagai organisasi perjuangan
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) adalah organisasi mahasiswa Islam yang didirikan oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam) di Yogyakarta pada tanggal 14 rabiul awwal 1366 H bertepatan dengan tanggal 05 Februari 1947.

Tujuan didirikannya HMI didasari oleh kondisi mahasiswa Islam pada waktu itu yang belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sistem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Oleh karena itu, perlu dibentuk organisasi yang mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agam Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana kalau Negara Republik Indonesia tidak merdeka dan rakyatnya melarat. Maka organisasi mahasiswa Islam harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat.

Dalam menjawab tantangan yang sedang berkembang, HMI bersifat adaptif dengan perkembangan zaman dan menyesuaikan tujuan organisasinya terhadap kebutuhan bangsa. Hal ini dapat dilihat dari sejarah perjuangan HMI yang telah menjalan 10 fase, yaitu:
  • Fase konsolidasi spiritual dan proses berdirinya (1946-147)
  • Fase berdiri dan pengokohan (5 Februari 1947-30 November 1947)
  • Fase perjuangan bersenjata, perang kemerdekaan, dan menghadapi penghianatan PKI 1 (1947-1949)
  • Fase pembinaan dan pengembangan organisasi (1950-1963)
  • Fase tantangan I dan menghadapi pemberontakan PKI II (1964-1965)
  • Fase kebangkitan HMI (1966-1968)
  • Fase partisipasi HMI dalam pembangan (1969-sekarang)
  • Fase pergolakan dan pembaharuan pemikiran (1970-1994)
  • Fase reformasi (1995-1999)
  • Fase tantangan II (2000-sekarang)
Adapun tujuan organisasi HMI secara periodik mengalami perubahan adalah sebagai berikut:
Pada tahun 1947 yaitu:
  • Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia
  • Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam
Pada tahun 1955
  • Ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam
Pada tahun 1966
  • Membina Insan Akademis Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam menuju terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT
Pada tahun 1969
  • Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT
Tujuan organisasi HMI pada saat ini seperti yang dirumuskan dalam pasal 4 anggaran dasar HMI adalah hasil perubahan tujuan organisasi yang terjadi pada tahun 1969. Meskipun tujuan organisasi HMI mengalami beberapa perubahan, namun misi HMI tetap berada di atas tiga komitmen yang merupakan wilayah gerakannya, yaitu ke-Islaman, kemahasiswaan dan kebangsaan.

Berdasarkan tujuan organisasi pada pasal 4 anggaran dasar HMI, dapat diperoleh intisari tujuan organisasi yang berupa kualitas insan cita, yaitu dunia cita yang terwujud oleh HMI  di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan  berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal 4 anggaran dasar HMI adalah sebagai berikut:
1. Kualitas Insan Akademis

  • Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
  • Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui. Selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya  dengan kesadaran.
  • Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis  maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara  bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan

2. Kualitas Insan Pencipta

  • Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan  bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). 
  • Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan  dan pembaharuan.
  • Bersifat independen, terbuka dan tidak isolatif, 
  • Mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam dengan kemampuan akademisnya.

3 Kualitas Insan Pengabdi

  • Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
  • Sadar  membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menjadi baik.
  • Insan akademis, pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.

4. Kualitas Insan yang  bernafaskan islam

  • Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.
  • Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim. Kualitas insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.

5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT

  • Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
  • Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar  bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
  • Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
  • Rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
  • Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
  • Percaya pada diri sendiri  dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard”  yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.

Pada pokoknya insan cita HMI merupakan insan pelopor (man of future) yaitu insan yang berfikiran luas dan  berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu pengetahuan untuk secara kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Tipe ideal dari hasil perkaderan HMI adalah insan pembaharu (man of inovator).

Dengan rumusan tujuan organisasi pada pasal 4 anggaran dasar HMI, maka pada hakekatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif.

Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi HMI disebutkan di dalam pasal 5 anggaran dasar HMI, yaitu:
a. Membina pribadi muslim untuk mencapai akhlaqul karimah.
b. Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.
c. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan umat manusia.
d. Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan Dienul Islam dalam kehidupan pribadi,
e. bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
f. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah sesama umat Islam sedunia.
g. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk
h. menopang pembangunan nasional.
i. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan huruf (a) s.d. (e) dan sesuai dengan azas, fungsi, dan peran organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan organisasi.

Dalam usaha pencapaian tujuan organisasinya, HMI sebagai organisasi perjuangan, setiap saat dihadapkan kepada berbagai tantangan yang datang silih berganti tanpa berhenti. Tantangan itupun akan selalu muncul terlebih-lebih di masa depan, yang bentuk dan wujudnya jauh lebih besar dan berat. Ada 2 tantangan besar yang dihadapi HMI, yaitu tantangan internal dan eksternal.

Tantangan Internal
Adapun yang menjadi tantangan internal HMI saat ini adalah sebagai berikut :

  1. Masalah eksistensi dan keberadaan HMI
  2. Masalah relevansi pemikiran-pemikiran HMI untuk melakukan perbaikan dan perubahan mendasar terhadap berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia.
  3. Masalah peran HMI sebagai organisasi perjuangan yang sanggup tampil dalam barisan terdepan sebagai barisan terdepan (avant garde) bangsa dalam melakukan berbagai perubahan yang dibutuhkan masyarakat.
  4. Masalah efektifitas HMI memecahkan masalah yang dihadapi bangsa, karena banyak organisasi sejenis maupun yang lain, dapat tampil lebih efektif mengambil inisiatif terdepan memberi solusi terhadap problem yang dihadapi bangsa Indonesia.

Tantangan eksternal
Adapun yang menjadi tantangan eksternal HMI saat ini adalah sebagai berikut :

  1. Tantangan menghadapi perubahan zaman yang jauh berbeda dari abad ke-20, yang muncul pada abad ke-21 saat ini, serta abad Globalisasi.
  2. Tantangan terhadap peralihan generasi yang hidup di zaman dan situasi berbeda dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya yang dijalani generasi muda bangsa.
  3. Tantangan untuk mempersiapkan kader-kader dan alumni HMI yang akan menggantikan alumni-alumni HMI yang saat ini menduduki berbagai posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 
  4. Tantangan menghadapi bahaya abadi Komunis.
  5. Tantangan menghadapi golongan lain, yang mempunyai misi berbeda dari umat Islam.
  6. Tantangan adanya kerawanan aqidah. 
  7. Tantangan menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi 
  8. Tantangan menghadapi perubahan dan pembaharuan di segala aspek kehidupan manusia
  9. Tantangan menghadapi masa depan yang belum diketahui bentuk dan coraknya.
  10. Kondisi umat Islam Indonesia yang dalam kondisi belum bersatu.
  11. Kondisi dan keadaan perguruan tinggi serta dunia kemahasiswaan/kepemudaan yang penuh dengan berbagai persoalan dan problematika yang sangat kompleks

Untuk menghadapi tantangan-tantangan itu, HMI bersama segenap aparatnya harus mampu menghadapinya dengan semangat militansi yang tinggi. Memahami tujuan organisasi seperti yang dijelaskan dalam konstitusi dan mengambil pelajaran dari sejarah perjuangan HMI di masa lalu serta mengetahui tantangan yang sedang dihadapi saat ini dan tantangan yang akan dihadapi di masa depan, diharapkan HMI mampu menjawab segala tantangan yang akan dihadapinya.

comments | | Read More...

Sejarah Singkat Berdirinya HMI

Published by : Unknown on Sunday, March 29, 2015 | 4:35 PM

Sunday, March 29, 2015

Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam karena semua persiapan yang diperluksan sudah beres - Lafran Pane

Bulan Agustus tahun  1945 di tanggal 17, Indonesia menyatakan dirinya sebagai bangsa yang merdeka. Maka, dimulailah sebuah era dimana masyarakat Indonesia terkhususnya kaum pelajar mempertahankan kemerdekaannya dan memulai sejarah bangsa.

Indonesia, yang pada saat itu masih belum resmi diakui oleh Belanda, memaksa pemerintah muda Indonesia untuk memindahkan ibukota di provinsi Yogyakarta. Sehingga, segala hal mengenai pemerintahan dipusatkan untuk sementara di Yogyakarta. Hal ini secara politik dimanfaatkan oleh kaum terpelajar untuk menyemangati kemerdekaan. Hal tersebut mereka tunjukkan dengan membentuk Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) pada tahun 1946. PMY ini beranggotakan mahasiswa yang berasal dari tiga perguruan tinggi di kota tersebut, yaitu Sekolah Tinggi Teknik, Sekolah Tinggi Islam dan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada.

Dengan terbentuknya PMY bukan berarti situasi politik di Indonesia pada saat itu menguat dan stabil. Persoalan mahasiswa pada saat itu ialah tidak stabilnya pemikiran mahasiswa khususnya mahasiswa Islam pada saat itu. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor sosio-kultural serta perang ideologi yang 
terjadi di dunia. Oleh karena itu, membangun kekuatan dengan azas persatuan sangat dibutuhkan.

Sebulan sejak PMY dibentuk pada Oktober 1946, seorang mahasiswa asal Sumatera Utara yang bersekolah di Sekolah Tinggi Islam mengadakan pembicaraan dengan teman-temannya untuk membentuk sebuah organisasi mahasiswa. Anehnya, mahasiswa tersebut adalah mahasiswa tingkat I (semester awal). Dengan bersemangat ia akhirnya mendapatkan dukungan dan mengundang mereka untuk menghadiri rapat agar maksud yang diinginkan dapat dibicarakan. Mungkin, dikarenakan masih terlalu muda, kesepakatanpun hilang. Tidak adanya kesepakatan tidak mengecilkan semangat dan cita-cita pria tersebut. Ia memikirkan langkah yang strategis dan drastis untuk mewujudkan cita-cita ini. 

Maka, pada tanggal 5 Februari 1947 dalam kuliah tafsir yang diisi oleh Husein Yahya sebagai pengajar, Lafran Pane (mahasiswa semester 1) mengadakan pertemuan mendadak dengan peserta mahasiswa dan sang dosen. Dengan langkah yang pasti ia langsung berdiri dan memimpin rapat sembari berkata dengan lantang: “Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam karena semua persiapan yang diperlukan sudah beres”. Tepat pada tanggal 5 Februari 1947 yang bertepatan pada tanggal 14 rabiul awal 1366 H lahirlah organisasi Mahasiswa Islam dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan ketua Lafran Pane dan Asmin Nasution sebagai wakil ketua. Para anggota diisi oleh mahasiswa kuliah tafsir antara lain, Anton T Jailani, Karnoto Zarkasyi, Maisaroh Hilal, Suwali Y Gozali.(AFP)
comments | | Read More...

Dasar Dasar Kepercayaan NDP HMI

Published by : Unknown on Sunday, May 4, 2014 | 6:34 PM

Sunday, May 4, 2014

Diketik ulang dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP Cak Nur)


Ringkasan

Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya.

Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk-bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang benar. Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur.

Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai yang tradisional, dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh yang merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber nilai dan pangkal nilai itu haruslah kebeneran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal tujuan segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah SWT.

Tuhan itu ada, dan secara mutlak hanyal Tuhan. Pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian hakekat Tuhan yang sebenarnya. Namun, demi kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya tentang Ketuhanan dan tata nilai yang bersumber kepada-Nya. Oleh sebab itu, diperlukan sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak bertentangan dengan insting dan indera.

comments | | Read More...

Inti NDP "Beriman, Berilmu dan Beramal"

Published by : Unknown on Wednesday, April 2, 2014 | 8:49 PM

Wednesday, April 2, 2014

Oleh Admin Dunia Insan Kamil


Ringkasan Inti NDP "Beriman, Berilmu dan Beramal"
Kalau teman-teman melihat NDP, tentu saja dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Yang pertama “Dasar-Dasar Kepercayaan”, “Kemanusiaan”, “Kemerdekaan Manusia”, “Ikhtiar dan Takdir”, ini tentu saja banyak sekali unsur dan tulisan H. Agus Salim; Filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawakkal misalnya. Kemudian “Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan”, atau “Individu dan Masyarakat”, “Keadilan Sosial” dan “Keadilan Ekonomi”, “Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan”, lalu kesimpulan dan penutup. Saya tidak akan menerangkan semua NDP. “Dengan demikian sikap hidup manusia menjadi sangat sederhana. Yaitu beriman, berilmu dan beramal”. Ya, biasa, kalau suatu ungkapan yang sudah menjadi klise, itu tidak menggugah apa-apa. Apa makna beriman, berilmu, beramal, saya kira itu telah menjadi kata-kata harian.

Saya kira hidup beriman, tentu saja personal, pribadi sifatnya. Setiap manusia itu harus menyadari tidak bisa tidak harus punya nilai. Oleh karena itu iman adalah primer. Iman adalah segalanya. Oleh karena iman disitu adalah sandaran nilai kita, ini kemudian diungkapkan secara panjang lebar dalam bab Dasar-Dasar Kepercayaan. Kenapa manusia memiliki kepercayaan. Di situ, misalnya, kita menghadapi satu dilema; satu dilema pada manusia, yang dikembangkan dalam Syahadat La ilaha ilallah. Tiada Tuhan melainkan Allah SWT. Di sini kita bagi dalam dua, nafyu dan itsbat. Artinya negasi dan afirmasi

Sebab bangsa Muslim yang pertama yang bukan orang Arab, itu yang besar adalah orang Persi. Memang sebelum itu orang Syiria, Mesir, semua bukan Arab. Tetapi mungkin karena latar belakang kultural mereka itu tidak begitu kuat, maka mereka ter-Arabkan sama sekali, Sehingga orang Mesir sekarang sudah tidak ada lagi. Mereka semua menjadi orang Arab. Termasuk Khadafi yang keturunan Kartago, itu juga menjadi orang Arab. Kalau dari sejarah, Khadafi itu lebih dekat dengan orang-orang Yunani, orang Romawi dan sebagainya sebagai keturunan Kartago. Libya bukan tempatnya orang-orang Kartago dulu dan mereka itu lebih banyak orang-orang Quraisy. Tetapi mereka menjadi Arab dan berbahasa Arab. Maka, yang disebut dengan bangsa-bangsa Arab itu, secara darah sebetulnya sebagian besar bukan orang-orang Arab, tetapi orang yang berbahasa Arab.

Bangsa Muslim yang pertama bukan Arab dan sampai sekarang tidak berhasil di-Arabkan adalah bangsa Persi. Padahal secara geografis itu paling dekat dengan dunia Arab. Mengapa? Karena latar belakang kebudayaan Persi yang besar itu paling dekat dengan dunia Arab. Mengapa? Karena latar belakang kebudayaan Persi yang besar itu, sehingga mereka tidak bisa di-Arabkan. Oleh karena itu, bangsa Persi-lah yang pertama kali menghadapi masalah terjemahan ini sebabg Islam datang dengan berbahasa Arab. Sehingga mazhab Hanafi yang Abu Hanifah itu sendiri orang Persi – berpendapat, sembahyang dalam terjemahan itu boleh. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Persi selalu menggunakan Khoda untuk Allah. Kita mengetahui bahwa bahasa Persi itu adalah satu rumpun dengan bahasa Jerman, Inggris dan Sansekerta. Sehingga Baitullah misalnya, mereka terjemahkan menjadi Khanih-e Khoda. Maka dari itu, ketika zaman modern sekarang ini dan umat Islam mulai menyebar ke mana-mana termasuk ke negeri-negeri Barat, maka ada persoalan, yaitu kalau Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, misalnya, bagaimana menerjemahkan? Apakah Allah harus diterjemahkan menjadi God, ataukah tidak. Itu sudah ada dua pendapat. Misalnya, The Meaning of The Glorious Qur’an tidak menerjemahkan perkataan Allah. Sama sekali tidak. Tetapi sebaliknya Yusuf Ali yang orang Pakistan, yang tafsirnya juga diterbitkan oleh Rabithah Alam Islami di Mekkah, menerjemahkan Allah dengan God sehingga dalam terjemahan dia, itu tidak ada sama sekali perkataan Allah, karena jadi God semua. Dan Khomeini yang sekarang mendirikan negara Islam di Iran, konstitusinya dalam versi bahasa Inggris, menerjemahkan la ilaaha illa-Allah, dengan there is no god but God. Ini penting mengapa ulasan ini agak panjang karena ada implikasinya. Yaitu salah satu problem kita di Indonesia ini ialah bahwa tradisi intelektual Islam kita masih muda sekali, sehingga orang sering kehilangan jejak, akhirnya bingung. Buku Yusuf Ali yang saya beli dari Mekkah yaitu ketika saya mengadakan kunjungan ke beberapa negara ke Timur Tengah diberi pengantar dari sekjend Rabithah Alam Islami. Kita bisa melihat sekarang di sini misalnya perkataan la ilaaha illa-Allah bagaimana diterjemahkan. Begitu juga dalam tafsir Muhammad Asada tau dalam Konstitusinya Khomeini. Kita boleh tidak setuju dengan ajaran Syi’ah, tetapi jangan phobia. Justru bobot NDP sebetulnya menghilangkan itu. Sedangkan Islam itu sendiri berada di tengah-tengah umat manusia. Jadi, kita ini harus muslim di tengah umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, mungkin saudara-saudara juga tahu bahwa saya selalu mengatakan tidak setuju dengan sensor. Orang boleh dengan tidak setuju dengan suatu paham, tetapi jangan menyensor.

Karena itu sebenarnya, di Indonesia kata Allah itu diterjemahkan menjadi kata Tuhan. Menurut saya bisa, Khomeini saja bisa kok, mengapa kita tidak bisa. Itu Yusuf bisa, bahkan itu diterbitkan oleh Rabithah Alam Islami. Jadi, tiada Tuhan dengan t kecil (tuhan), kecuali Tuhan itu bisa. Waktu itu saya tidak tahu, bahwa Buya Hamka pernah menerangkan hal ini, sehingga ketika saya terlibat dalam polemic itu ada seorang teman yang bersuka rela memberika kepada saya copy dari polemik Buya Hamka dengan seseorang melalui surat menyurat. Dan sekarang sudah diterbitkan dalam sebuah buku, yaitu Hamka Menjawab Masalah-masalah Agama.

Dalam psikologi agama ada yang disebut dengan convert complex. Convert artinya orang yang baru saja memeluk agama. Lalu complex, perasaan sebagai agamawan baru. Misalnya, di masyarakat ada saja bekas tokoh yang kurang senang pada agama, lalu menjadi fundamentalistik sekali.

Nah, karena tradisi intelektual kita itu begitu muda, begitu rapuh, kita sering kehilangan jejak. Kemudian bingung. Ada cerita menyangkut dua orang Minang: H. Agus Salim dan Sutan Takdir Alisyahbana. Sudah tahulah Takdir Alisyahbana, seorang yang mengaku sebagai orang yang modern dan sangat rasionalistik, oleh karena itu, dia pengagum Ibnu Rusd. Dia selalu bilang, dunia ini kan persoalan pertengkaran antara Ghazali dan Ibnu Rusd. Karena di dunia Islam Ghazali yang menang dan di dunia Barat, Ibnu Rusd yang menang, maka akhirnya Ibnu Rusd yang menjajah Ghazali. Jadi Indonesia dijajah Belanda itu sebetulnya Ghazali dijajah Ibnu Rusd, menurut Takdir Alisyahbana. Karena apa? Ghazali mewakili mistisisme, intuisisme, sedangkan Ibnu Rusd mewakili rasionalissme.

Ada betulnya juga, meskipun tidak seluruhnya. Suatu saat pak Takdir konon menggugat H. Agus Salim. Katanya begini, “Pak Haji, pak haji ini kan orang terpelajar sekali, masa masih biasa sembahyang. Artinya, kok masih mempercayai agama?’ Lalu dibilang oleh H. Agus Salim, “Maksud saudara apa?”, “Maksud saya, sebagai orang terpelajar saya tidak membenarkan sesuatu kecuali saya paham betul”. Betul memang begitu, Al-Qur’an sendiri menyatakan begitu. Akan tetapi begini, kita kan terbatas, karena terbatas kalau rasio kita sudah pol begitu, maka sebagian kita serahkan kepada iman.” Jadi, masalah iman itu adalah bagian daripada hidup dan itu adalah kewajiban daripada rasional kita. Rupanya Takdir belum puas dengan jawaba itu. Lalu Salim membuat jawaban yang lucu dan benar. Di bilang begini, “Begini aja deh, Takdir kan orang Minang. Kan suka pulang ke Minangkabau, pulang kampung, naik apa?” “naik kapal” jawab Takdir. Rupanya waktu itu belum bisa naik pesawat, pesawat belum begitu banyak. “Nah”, kata Agus Salim, “Kamu naik kapal itu menyalahi prinsipmu, kamu tidak akan menerima sesuatu kecuali kalau paham seluruhnya. Jadi asumsinya, kalau kamu naik kapal, adalah kalau sudah paham tentang seluruhnya yang ada di dalam kapal itu. Termasuk bagaimana kapal dibikin, bagaimana menjalankan, bagaimana kompasnya, bagaimana ini dan sebagainya. Nah, begitu ketika kamu menginjakkan kaki ke gealada kapal Tanjung Priok, itu kan sudah ada masalah iman. Kamu percaya kepada nakhoda, kamu percaya kepada orang yang bikin kapal ini bahwa ini nanti tidak pecah di Selat Sunda dan kamu kemudian tenggelam. Percaya, percaya dan semua deretan kepercayaan.

Agus Salim melanjutkan, “Sedikit sekali yang kamu ketahui tentang kapal. Paling-paling bagaimana tiketnya dijual di loketnya saja yang kamu tahu. Pembuatan tiket juga kamu tidak tahu” katanya. Lalu Salim bilang begini, “Seandainya kamu konsisten dengan jalan pikiran kamu hai Takdir, mustinya kamu pulang ke Minang itu berenang. Ya, begitu sebab berenang itu yang paling memungkinkan usahamu. Itu saja masih banyak sekali masalah. Bagaimana gerak tangan kamu saja mungkin kamu tidak paham, “katanya, lalu ini yang menarik,”Nanti kalau kamu berenang di Selat Sunda kamu di ombang-ambing ombak dan kamu akan berpegang pada apa saja yang ada. Dalam keadaan panik, kamu akan berpegang pada apa saja yang ada. Untung kalau kamu ketemu balok yang mengambang. Akan tetapi, kalau kamu ketemu ranting, itupun akan kamu pegang. Ketemu barang-barang kuning juga kamu pegang”. Itu kata Agus Salim.

comments | | Read More...

Ringkasan Latar Belakang Perumusan NDP

Published by : Unknown on Friday, March 21, 2014 | 8:27 PM

Friday, March 21, 2014


Disunting dari Hasil-Hasil Kongres Depok 5-10 November 2010
Sebetulnya tidak ada masalah apabila kita sebagai orang muslim berpedoman pada ajaran Islam, memandang segala sesuatu dari sudut ajaran Islam, termasuk terhadap masalah-masalah kemasyarakatan, kenegaraan Pancasila.

Saya disebut-sebut sebagai orang yang merumuskan NDP, meskipun diformalkan oleh Kongres Malang. Itu terjadi 17 tahun lalu. Jadi, sebagai dokumen organisasi, apalagi organisasi mahasiswwa, NDP itu sudah cukup tua. Oleh karena itu, ada teman berbicara tentang NDP dan kemudian mengajukan gagasan misalnya untuk tidak mengubah-mengembangkan dan sebagainya, maka saya selalu menjawab, dengan sendirinya memang mungkin untuk diubah dalam arti dikembangkan.

NDP, Kesimpulan Suatu Perjalanan

Saya ingin bercerita sedikit. Mungkin ada gunanya walaupun cerita ringan saja. Yaitu bagaimana NDP itu lahir.

Ahmad Wahib dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam yang sangat kontroversial itu menulis bahwa saya dalam tahun 1968 diundang untuk mengunjungi universitas-universitas di Amerika yang waktu itu merupakan pusat-pusat kegiatan mahasiswa. Dan kepergian saya Amerika itu mengubah banyak sekali pendirian saya. Dan kepergian saya ke Amerika itu mengubah banyak sekali pendirian saya, begitu kata Wahib dalam bukunya, maaf saja, tidak benar. Jadi, di sini Ahmad Wahib salah. Memang perlawatan yang dimulai dari Amerika itu banyak sekali mempengaruhi saya, tetapi bukan pengalaman di Amerika yang mempengaruhi saya, tetapi bukan pengalaman di Amerika yang mempengaruhi saya, melainkan justru di Timur Tengah.

Pokoknya dari semua tempat itu saya mengadakan diskusi macam-macam. Dan konklusinya begini; saya kecewa terhadap tingkat intelektualitas kalangan Islam di Timur Tengah saat itu. Sehingga saya lalu ingat Buya Hamka, ketika suatu saat Buya minta izin kepada K.H. Agus salim untuk pergi ke Timur Tengah, belajar. Jawab K.H. Agus Salim seperti yang diumat dalam Gema Islam dahulu dan sebagainya, ”Malik, kalau kamu pergi ke Mekkah atau Timur Tengah, boleh saja. Kamu akan fasih berbahasa Arab barangkali. Tetapi paling-paling kamu akan jadi lebai, kalau pulang. Tetapi sebaliknya kalau kamu ingin mengetahui Islam secara intelek, lebih baik di sini. Belajar sama saya”. Dan saya setuju dengan pendapat K.H. Agus Salim.

Setelah pulang dan haji, saya ingin menulis sesuatu tentang nilai-nilai dasar Islam. Seluruh keinginan saya untuk bikin NDP saya curahkan pada bulan April, untuk bisa dibawa ke Malang pada bulang Mei. Jadi, NDP itu sebetulnya merupakan kesimpulan saya dan perjalanan yang macam-macam di Timur Tengah selama tiga bulan lebih itu. Jadi, sama sekali salah kalau Ahmad Wahib mengatakan itu adalah pengaruh kunjungan di Amerika. Begitulah singkatnya cerita. Namanya saja NDP, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan. Tentu saja bahannya itu macam-macam. Saya ingin menceritakan, mengapa namanya NDP. Sebetulnya teman-teman pada waktu itu dan saya sendiri berpikir untuk memberikan nama NDI, Nilai-Nilai Dasar Islam. Akan tetapi, setelah saya berpikir, kalau disebut Nilai-Nilai Dasar Islam, maka klaim kita akan terlalu besar. Kita terlalu mengklaim inilah Nilai-Nilai Dasar Islam. Oleh karena itu, lebih baik disesuaikan dengan aktivitas kita sebagai mahasiswa. Lalu saya mendapat ilham dari beberapa sumber. Pertama adalah Willy Eicher, seorang ideology Partai Sosial Demokrat Jerman yang membikin buku, The Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Socialism. Nilai-Nilai Dasar dan Tuntutan-tuntutan Asasi Sosialisme Demokrat. Nah, ini ada “nilai-nilai dasar”. Kemudian “perjuangan”-nya dari mana? Dan karya Syahrir mengenai ideologi sosialisme Indonesia yang termuat dalam Perjuangan Kita. Dan ternyata Syahrir juga tidak orisinal. Dia agaknya telah meniru dari buku Hitler, Mein Kamf. Jadilah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) itu. Kemudian saya bawa ke Malang, ke Kongres IX, Mei 1969. Tetapi di sana tentu saja agak sulit dibicarakan karena persoalannya demikian luas sehingga tidak mungkin suatu Kongres membicarakannya. Lalu diserahkan pada kami bertiga; Saudara Endang Saifudin Anshari, Sakieb Mahmud dan saya sendiri. Nah, itulah kemudian lahir NDP, yang namanya diubah lagi oleh Kongres ke-16 HMI Menjadi NIK (Nilai Identitas Kader).

Download Full "Latar Belakang Perumusan NDP" File .pdf via 4shared.com
comments | | Read More...
 
Tentang Dunia Insan Kamil | Hubungi Kami | Disclaimer
| Copyright © 2013. Dunia Insan Kamil . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger