News Update :
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Hukum dan Legalisme, Dalam Sebuah Pernyataan Ilmiah

Published by : Unknown on Sunday, November 9, 2014 | 4:45 AM

Sunday, November 9, 2014

Oleh Averroes F Piliang

Kehidupan bermasyarakat menuntut para pelakunya untuk beraktivitas sesuai dengan sistem yang berlaku. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan suatu komunitas yang berisi kedamaian. Oleh karena itu, para pelaku haruslah bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang ada sehingga kemakmuran, kedamaian, ketertiban dan cita-cita bersama tercapai dan dapat dirasakan bersama.

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang sifatnya plural (beragam). Sifat keanekaragaman di dalam masyarakat menunjukkan hal yang alami untuk suatu kesatuan (unity). Seperti halnya kehidupan alam yang terdiri dari golongan Plantae dan Animalia pada tingkatan yang paling tinggi, mereka dalam tingkatan khusus memiliki perbedaan namun masih dalam kesatuan yang disebut dengan alam atau nature. Setiap makhluk yang hidup di alam merupakan sebuah rantai panjang yang saling berhubungan. Di dalam ilmu pengetahuan kita mengenal sebutan rantai makanan, seleksi alam dan evolusi. Semuanya itu merupakan bentuk interaksi antar makhluk hidup yang tinggal dan beraktivitas di alam, tetapi ada sebuah aturan yang berlaku pada dunia Plantae dan Animalia tersebut, yaitu peran yang sesuai dengan karakternya. Kedamaian alam yang dapat dirasakan hari ini, tak lepas karena semua telah mengikuti aturan universal tersebut.

Dunia manusia sangat jauh berbeda dengan alam yang dibicarakan sebelumnya. Dunia manusia terdiri dari kategori yang sama namun dalam aktivitasnya sangat jauh berbeda. Sejarah manusia menyatakan begitu banyak kedamaian yang telah terbentuk akhirnya runtuh dan rusak dikarenakan perbedaan yang terjadi. Diawali oleh Mo Tze, seorang filsuf di masa Cina kuno yang memimpikan kedamaian universal untuk mengakhiri ketidakadilan seperti kemiskinan dan peperangan yang disebabkan oleh otoritas yang berkuasa. Ideologinya menentang kepatuhan buta dan monoton terhadap adat dan kekuasaan serta buah pikirannya yang berjudul “Melawan Takdir”, setidaknya selama seribu tahun masih dikenal. Yaitu sebuah konsep pengujian dalam doktrin/kebijakan kehidupan dengan mempertanyakan doktrin/ kebijakan tersebut apakah dapat diterima oleh masyarakat, bagaimana melaksanakannya, dan dapatkah bermanfaat bagi masyarakat. Tiga dasar pengujian ini menjadi tolak ukur masyarakat modern sekarang untuk mencapai kedamaian yang menjadi cita-cita bersama dan menjadi apa yang dikenal dengan Hukum.

Kehidupan manusia yang dibicarakan memiliki kompleksitas, sehingga dalam mencapai tujuannya diperlukan sebuah kesatuan. Agar tercipta kesatuan tersebut, sistem haruslah mengikat dan bersifat universal sehingga diperlukan langkah-langkah drastis untuk mencapainya. Salah satu orang yang melakukannya adalah Qin Shing Huang, seorang kaisar yang menguasai seluruh daerah dan mengubahnya menjadi suatu bangsa dan dikenal dengan negara China. Langkah drastis yang dilakukannya adalah membuat sebuah standar atau aturan baku yang berlaku di seluruh daerah seperti standar jalan, panjang, mata uang tunggal, dan di seluruh daerah tersebut terjadi penyeragaman pada setiap aspek yang akhirnya terbentuklah sebuah penyeragaman Hukum. Hal tersebut juga termasuk mengatur pemikiran-pemikiran yang muncul di setiap manusia. Maka, lakukanlah sesuai hukum yang berlaku atau anda akan menerima sanksi yang berlaku. Pemikiran seperti inilah yang disebut dengan “Legalisme” yang dikenal sebagai suatu pemahaman dalam sistem hukum. Sebuah pemikiran yang sangat mengharamkan kemerdekaan berpikir termasuk kebebasan berpendapat atau bahkan mengkritisi pihak-pihak yang berkuasa. Dengan demikian akan lahir sistem perbudakan masyarakat yang mengakibatkan kedamaian menjadi suatu hal yang mustahil terjadi.

Hukum dan legalisme yang dibicarakan di awal bukanlah sebuah bentuk perlawanan terhadap kedamaian yang selama ini dimimpikan. Persoalan yang nyata terjadi adalah pelaksanaan hukum yang berlaku menyimpang sehingga terbentuk paham aliran legalisme yang menjadi tolak ukur. Telah kita ketahui bahwa hukum terbentuk dikarenakan adanya suatu cita-cita untuk mencapai kedamaian universal. Sebuah keadaan dimana nilai-nilai kebenaran dijunjung tinggi. Oleh karena itu, kebenaran haruslah dicapai bukan dengan langkah drastis seperti legalisme melainkan dengan cara kemerdekaan berpikir. Sebuah keadaan dimana setiap orang memiliki kebebasan berpikir dalam mengungkapkan setiap hal yang berlawanan dengan kebenaran. Setiap pendapat yang diberikan haruslah diterima dengan sikap yang ilmiah sehingga setiap pertimbangan didasari atas bermanfaatnya sebuah kebijakan yang dilaksanakan, untuk itu dibutuhkan sebuah konsep ilmiah dalam mencapainya.

Ilmu pengetahuan membutuhkan kemerdekaan berpikir untuk berkembang. Dengan demikian proses saling bertukar pemikiran akan terbentuk dan sikap saling menghargai serta toleransi antar manusia menjadi tolak ukur. Pemikiran seperti ini tidak akan terjadi apabila setiap institusi pendidikan bergantung pada kebijakan penguasa. Berkembangnya ilmu pengetahuan bergantung pada keberanian manusia-manusia yang berada di dalamnya untuk saling bertukar pikiran tanpa dibatasi oleh pihak yang berkuasa.

Mengutip pernyataan Ibnu Al-Khaitam, “Mencari kebenaran itu sangatlah sulit dan jalan untuk menemukan kebenaran sangatlah terjal. Sebagai pencari kebenaran, sebaiknya anda tidak hanya melandasi pemikiran anda pada tulisan-tulisan dari parah ahli zaman dulu ataupun kepercayaan anda terhadap tulisan-tulisan orang terdahulu. Anda harus menguji tulisan-tulisan itu dengan kritis dari setiap sisi. Anda harus menyimpulkan berdasarkan argumen dan percobaan dan bukan karena ucapan orang lain. Setiap manusia sangat rentan pada semua jenis ketidaksempurnaan. Sebagai pencari kebenaran kita harus juga mempertanyakan dan menguji ide-ide kita sendiri dalam setiap percobaan untuk menghindari kesalahan kesimpulan dan pemikiran yang ceroboh. Tempuhlah cara ini, dan kebenaran akan muncul di hadapan anda.”

Referensi: Cosmos Spacetime Odyssey "Hiding in the light"
comments | | Read More...

Kemerdekaan Berpikir

Published by : Unknown on Tuesday, October 14, 2014 | 12:20 PM

Tuesday, October 14, 2014

Oleh Ramadhani Febriantoro

Terkadang akal bebasku berpendapat, akal bebas yang berani berfikir tanpa adanya ketakutan akan dimarahi Tuhan. Akal bebasku berpendapat bahwa dalam hal tertentu ajaran Islam itu tidak sempurna. Ajaran Allah SWT itu dalam beberapa hal jelek dan beberapa ajaran manusia, yaitu manusia-manusia besar, lebih baik. Hanya karena kepercayaanku akan adanya Tuhan serta Al-Qur’an itu benar dari Tuhan serta Nabi Muhammad SAW itu manusia yang sempurna. Maka aku melawan pemikiranku dan tetap berpendapat bahwa Islam itu secara total baik dan sempurna. Akalku sendirilah yang tidak mampu meraba kesempurnaanya.

Pada kenyataannya dalam praktek berpikir selama ini kita tidak berpikir bebas lagi. Bila menilai sesuatu kita sudah bertolak pada suatu asumsi bahwa ajaran Islam itu baik dan faham-faham lain di bawahnya, lebih rendah. Ajaran Islam kita tempatkan pada tempat yang paling baik. Dan apabila tidak sesuai dengannya kita taruh dalam nilai di bawahnya. Karena Islam itu paling baik dan kita ingin menempatkan diri pada yang paling baik, maka kita selalu mengidentikkan pendapat yang kita anggap benar sebagai pendapat Islam.

Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai pendapat globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan. Tapi menolak untuk berpikir bebas berarti menolak rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi. Kalau betul-betul Islam itu membatasi kebebasan berpikir, sebaiknyalah saya berpikir lagi tentang anutan saya terhadap Islam ini. Maka hanya ada dua alternatif yaitu menjadi muslim sebagian atau setengah-setengah atau malah menjadi kafir. Namun sampai sekarang saya masih berpendapat bahwa Tuhan tidak membatasi, dan Tuhan akan bangga dengan otak saya yang selalu bertanya, tentang Dia. Saya percaya bahwa Tuhan itu segar, hidup, tidak beku. Dia tak akan mau dibekukan.

Pada hemat saya orang-orang yang berpikir itu, walaupun hasilnya salah, masih jauh lebih baik daripada orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir. Dan saya sungguh tidak dapat mengerti mengapa orang begitu phobia dengan pemikiran bebas. Walaupun itu ada kemungkinan efek jeleknya, tapi kegunaannya akan jauh lebih besar daripada mudharatnya. Malahan orang yang takut untuk berpikir bebas itu ditimpa oleh ketakutan dan keraguan akan kepura-puraannya yang sudah tak terlihat. Dia ragu untuk berkata bahwa ada satu pikiran yang dia benamkan di bawah sadarnya. Pikiran yang dibenamkan ini dia larang untuk muncul dalam kesadarannya. Padahal, dengan berpikir bebas manusia akan lebih tahu tentang dirinya sendiri. Manusia akan lebih banyak tahu tentang kemanusiaannya. Mungkin akan ada orang yang mengemukakan bahaya dari berpikir bebas yaitu orang yang berpikir bebas itu cenderung atau bahkan bisa jadi atheis. Betulkah? Orang yang sama sekali tidak berpikir juga bisa atheis! Lebih baik atheis karena berpikir bebas daripada atheis karena tidak berpikir sama sekali. Ya, Meskipun sama-sama jelek. Dengan berpikir bebas bisa salah hasilnya. Dengan tidak berpikir bebas juga bisa salah hasilnya. Lalu mana yang lebih potensial untuk tidak salah? Dan mana yang lebih potensial untuk menemukan kebenaraan-kebenaran baru? Saya kira orang yang tidak mau berpikir bebas itu telah menyia-nyiakan hadiah  Allah yang begitu berharga yaitu otak. Saya berdoa agar Tuhan memberi petunjuk pada orang-orang yang tidak menggunakan otaknya sepenuhnya. Dan sebaiknya saya pun sadar bahwa para pemikir bebas itu adalah orang-orang yang senantiasa gelisah. Kegelisahan itu memang dicarinya. Dia gelisah untuk memikirkan macam-macam hal terutama hal-hal yang dasariah dengan semata-mata berpijak pada obyektivitas akal. Saya sungguh tidak mendewa-dewakan kekuatan berpikir manusia sehinga seolah-olah absolut. 

Kekuatan berpikir manusia itu memang ada batasnya, sekali lagi ada batasnya! Tapi siapa yang tau batasnya itu? Otak atau pikiran sendiri tidak bisa menentukan sebelumnya. Batas kekuatan itu akan diketahui manakala otak kita sudah sampai di sana dan percobaan-percobaan untuk menembusnya selalu gagal. Karena itu manakala “keterbatasan kekuatan berpikir, maka jelas statement ini tidak berarti dan mungkin salah besar. Otak itu akan melampaui batas kekuatannya. Kalau sudah terang begitu, apa gunanya kita mempersoalkan batas, kalau di luar batas itu sudah di luar kemampuannya? Hal ini sudah dengan sendirinya, tak perlu dipersoalkan. Berikanlah otak itu kebebasan untuk bekerja dalam keterbatasannya, yaitu keterbatasan yang hanya otak itu sendiri yang tahu. Selama otak itu masih bisa bekerja atau berpikir, itulah tanda bahwa ia masih dalam batas kemampuannya. Dalam batas-batas kemampuannya dia bebas. Jadi dalam, tiap-tiap bekerja dan berpikir otak itu bebas.

Kalau suatu golongan atau umumnya umat Islam lemah, dalam suatu peristiwa atau hal tertentu, maka dengan cepat orang-orang terpelajar muslim—berkata bahwa yang salah adalah orang Islamnya bukan Islamnya. Ini adalah suatu bentuk dari tidak adanya kebebasan berpikir. Orang takut untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya kritik terhadap Islam. Kemungkinan adanya kritik sudah ditutup karena Islam sudah apriori dianggap betul dan kebal terhadap kemungkunan mengandung kelemahan. Apakah tidak mungkin Islam itu sendiri mengandung kelemahan? Saya sendiri sampai sekarang masih bertanya-tanya. Saya ingin menjadi muslim yang baik dengan selalu bertanya. Saya tidak bisa mengelak dari pikiran. Di mana saya berada, kemana saya menuju, di situ dan ke sana pikiran itu ada dan bertanya. Bekerjanya pikiran itu telah melekat pada adanya manusia. Tak ada kerja pikir berarti tak ada manusia. Karena itu tak ada jalan lain kecuali menggunakan daya pikir itu semaksimal mungkin. Dan titik akhir dari usaha dan menilai usaha ialah kematian!
comments | | Read More...

Teori Evolusi Darwin, "Sebuah Asal Usul Manusia Yang Terbantahkan"

Published by : Unknown on Monday, April 28, 2014 | 8:57 PM

Monday, April 28, 2014

Oleh Ardi Yusman

Disadur dari beberapa sumber

Charles Darwin seorang biologist mengajukan teori evolusi manusia dalam pernyataannya yaitu  manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama. Hal tersebut terungkap dalam buku Charles Darwin yang berjudul The Descent of Man, yang dipublikasi pada tahun 1871. Sampai saat ini, para pengikut Teori Evolusi Darwin telah mencoba untuk mendukung pernyataannya. Tetapi, meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, pernyataan mengenai “evolusi manusia” tidak adanya dukungan ilmiah yang berdasarkan penelitian dan penemuan yang nyata dalam bentuk fosil.

Sumber gambar mrpetsblogs.blogspot.com
Kebanyakan masyarakat biasa tidak menyadari kenyataan ini, dan berfikir bahwa teori yang dikemukakan oleh Darwin mengenai evolusi manusia didukung oleh banyak bukti yang kuat dan ilmiah. Salah satu penyebab adanya pendapat yang keliru ini adalah bahwa pesoalan ini sering dibahas dalam media serta proses pendidikan dihadirkan sebagai fakta yang terbukti ilmiah. Namun, para ahli dalam masalah ini menyadari bahwa tidak ada landasan ilmiah bagi pernyataan Darwin tentang teori evolusi manusia. David Pilbeam, ahli paleoanthropology dari Harvard University, mengatakan “Jika anda mengundang seorang ilmuwan dari bidang ilmu yang lain dan menunjukkan padanya sedikitnya bukti yang kita miliki ia tentu akan mengatakan”, “Lupakan saja; itu tidak cukup untuk diteruskan!”.
Tiada petunjuk ilmiah bagi pernyataan bahwa manusia berevolusi. Yang diajukan sebagai “bukti” tidak lebih dari ulasan sepihak atas sedikit fosil.
Dan William Fix, seorang penulis sebuah buku penting dalam bidang paleoanthropology berkomentar “Seperti yang telah kita lihat, ada banyak ilmuwan dan orang-orang populer saat ini yang memiliki nyali untuk mengatakan bahwa tidak ada keraguan tentang bagaimana manusia berasal. Tentunya, andai saja mereka memiliki bukti…

Pernyataan evolusi ini, yang “miskin akan bukti” yang secara ilmiah tidak masuk akal, memulai dengan adanya pohon kekerabatan manusia yang serumpun dengan kelompok kera dinyatakan dengan bentuk satu genus tersendiri, yaitu Australopithecus. Sehingga, menurut pernyataan ini, Australophitecus secara bertahap, diawali dengan kemampuan untuk berjalan tegak dan membesarnya kapasitas volume otak, ia melewati serangkaian proses perubahan dalam jangka waktu yang lama atau evolusi hingga mencapai tahapan manusia sekarang (Homo Sapiens). Tetapi, fakta fosil tidak mendukung scenario dari teori ini, meskipun ilmu pengetahuan menyatakan bahwa semua bentuk peralihan itu ada, tetapi antara manusia dan kera tidak dapat dilalui dengan menggunakan jejak fosil saja. Ernst Mayr, salah satu pendukung utama teori evolusi abad 20, berpendapat dalam bukunya One Long Argument bahwa “khususnya (teka-teki) bersejarah seperti asal usul kehidupan atau Homo Sapiens, adalah sangat sulit dan bahkan mungkin tidak pernah menerima penjelasan akhir yang memuaskan”.

comments (1) | | Read More...

Demokratisasi Pendidikan dalam Rangka Membangun Karakter Bangsa

Published by : Unknown on Wednesday, December 11, 2013 | 9:59 PM

Wednesday, December 11, 2013

Oleh Averroes F Piliang

Demokratisasi ditegakkan oleh masyarakat yang mana akan mengembangkan perekonomiannya. Menarik? Mengapa hanya sebatas ekonomi saja? Memang terbentuknya proses demokrasi di dunia modern berawal pada ketidaknyamanan rakyat terhadap kebijakan pemerintah (saat itu masih dipegang oleh Raja atau Ratu) tidak pro terhadap rakyat. Sehingga akibatnya kemiskinan terjadi dimana-mana. Legitimasi kemiskinan ini tampak jelas dengan adanya kebudayaan feudal yang berkepanjangan sampai berabad lamanya. Adanya kaum budak dan bangsawan menimbulkan sebuah sistem yan dinamakan dengan “kasta”.

Permasalahan setiap negara timbul karena tidak adanya integrasi dalam proses penyelesaiannya. Pembahasan demonstrasi tidak seiring dengan bidang lainnya. Sebut saja seperti, karakter, budaya dan pendidikan bangsa. Perlu adanya sebuah kombinasi dalam mengatasi hal tersebut dan menyelesaikannya. Yaitu antara satu aspek dengan aspek yang lain tanpa mengurangi esensi dari demokrasi.

Pendapat anda diterima, itu merupakan sebuah kata yang menjelaskan tentang esensi dalam peristiwa demokrasi yang terlupakan oleh banyak orang. Kebanyak dari kita hanya berpikir mengenai esensi demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ya, tidak dapat dipungkiri, teori demokrasi dari salah satu presiden Amerika yang terkenal ini telah menjadi jangan di masyarakat. Pertanyaannya adalah dimanakah esensi demokrasi ini bila ditinjau dari dua hal tersebut? Bagaimanakah sebenarnya esensi demokrasi ini? Apakah hanya sebatas kepemimpinan?

Sejak dulu, Indonesia telah memiliki karakter demokrasi tersendiri. Di desan dan kelurahan, di kampung halaman ketika dalam membuat kegiatan, kepala desas dan para tetua memanggil warga berupa pemuda dan kepala keluarga untuk melakukan pembicaraan. Terjadinya pembicaraan yang menghasilkan keputusan berdasarkan konsep musyawarah mufakat. Demokratisasi telah terjadi, mengapa budaya itu hilang? Satu hal yang tergerus oleh perkembangan zaman adalah kebiasaan musyawarah mufakat ini. Sebuah kebiasaan yang berorientasi pada pembagian peran dalam berdemokrasi.

Slogan pendidikan demokrasi seharusnya harus dicanangkan. Pendapat anda diterima memiliki peranan yang substansial. Peranan ini tampak jelas dengan adanya kepala desa dan tetua, orang tua dan pemuda memiliki fungsi dan struktural yang berbeda ketika musyawarah berjalan. Demokratisasi ini terjadi karena terkombinasi dengan jargon pendidikan. Apa itu? Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Jargon pendidikan yang terlupakan, apalagi dengan tidak dikombinasikan dengan demokratisasi. Jargon ini hanya dikenal sebatas lembaga SD, SMP, dan SMA “Negeri”.

Proses demokrasi yang dikombinasikan dengan jargon pendidikan ini akan menghasilkan sebuah kepemimpinan yang berkarakter. Maka, sewajarnya pendidikan itu membentuk karakter seseorang. Jika seseorang telah memiliki karakter maka demokratisasi akan berjalan menarik dan sangat bernilai. Ing Ngarso Sung Tulodo, ini berarti demokratisasi harus menjadi suri tauladan bukan hanya sebatas perkataan belaka. Artinya, setiap musyawarah harus diterima dan dilaksanakan karena ini merupakan keputusan bersama. Bukan berarti ketika keinginan dalam bermusyawarah tidak terakomodir, kita hanya menggerutu dan melakukan sebuah perlawanan, ya, “oposisi” ataupun walk out. Ing Madyo Mbangun Karso. Di tengah percekcokan yang ada demokratisasi harus menjadi sebuah wahana dalam membangkitkan jiwa seseorang. Inovasi akan timbul sehingga jiwa-jiwa nasionalisme terbentuk. Insan-insan yang berkualitas akan muncul sehingga bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat madani. Tut Wuri Handayani, berarti mampu untuk memberikan dorongan moral dan kerja. Secara mental, aktualisasi dan teoritis akan menumbuhkan sebuah konsep yang mendorong moral dan semangat.

Akhirnya, ketika demokratisasi yang dikombinasikan dengan 3 jargon pendidikan tersebut akan lahir Insan Pemimpin yang mampu menjadi suri tauladan (Uswatun Hasanah seperti Rasulullah SAW), dan mampu menjadi konseptor bagi orang-orang yang dipimpin dan mampu menggugah semangat orang yang dipimpin. Sebaik-baiknya seorang manusia ia bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya.

comments | | Read More...

Enam Perkara dalam Menuntut Ilmu

Published by : Unknown on Monday, December 9, 2013 | 7:58 PM

Monday, December 9, 2013

Oleh Ismail Marjuki

Dalam salah satu pepatah Arab (Mahfuzhot) dikatakan:

Saudaraku, Kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, akan saya beritahukan perinciannya dengan jelas :
  • Kecerdasan
  • Ketamakan (terhadap ilmu)
  • Kesungguhan
  • Uang (biaya)
  • Dekat dengan guru
  • Waktu yang lama

Kecerdasan (dzaka’un). Seorang ‘alim dalam menuntut ilmu memerlukan suatu kecerdasan, baik itu dalam hal memilih ilmu apa yang akan dipelajarinya ataupun kecerdasan dalam menyaring setiap ilmu yang dipelajarinya. Maka, tidak jarang seorang pelajar tidak mengerti akan ilmu yang dipelajarinya, sehingga menjadikan ilmu tersebut kurang bermanfaat.

Ketamakan (hirshun). Dalam ilmu, salah satu sifat yang harus dimiliki seorang ‘alim dalam menuntut ilmu adalah tamak ataupun rakus akan ilmu. Tamak ini akan menjadikan seorang ‘alim merasa tidak puas dengan ilmu yang dimilikinya sehingga ia akan terus belajar dan belajar demi memenuhi kenginannya.

Kesungguhan (Ijtihadun). Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan mendatangkan hasil yang memuaskan. Begitu juga halnya dengan menuntut ilmu, haruslah dilakukan dengan kesungguhan hati, sehingga kita dapat memperoleh ilmu yang berkah. Kesungguhan dalam menuntut ilmu akan menjauhkan kita dari rasa bosan dan malas, yang mana ini merupakan penyakit dari seorang ‘alim.

Uang (Dirhamun). Ilmu merupakan suatu hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, tetapi dalam menuntut ilmu memerlukan yang namanya uang. Salah satu opini yang sering kita dengar di lingkungan masyarakat Indonesia, “orang miskin dilarang sekolah”. Opini ini membuat saya sangat sedih, justru ini harus menjadi dorongan positif untuk seorang ‘alim. Mahalnya biaya pendidikan harusnya dapat menuntun seorang ‘alim untuk meraih prestasi yang lebih baik dan pastinya akan lebih menghargai ilmu yang telah dimilikinya.

Dekat dengan guru (Suhbatul ustadzi). Tak kenal maka tak sayang, ini merupakan salah satu pepatah di kalangan masyarakat kita. Hal ini menunjukkan kepada kita sebagai seorang ‘alim dalam menuntut ilmu harus berperilaku yang baik terhadap guru, salah satunya dengan mengenal guru tersebut. Sehingga, kita sebagai yang menerima ilmu dapat lebih memehami dan mengerti akan apa yang diajarkan oleh seorang guru. Kenalilah guru anda, berbuat baiklah kepadanya, niscaya ilmu yang anda dapatkan akan lebih bermanfaat.

Waktu yang lama (Thuluz zamani). Dalam hal ini, waktu yang lama merupakan suatu nikmat kesempatan dan waktu yang diberikan Allah SWT kepada kita sebagai ‘alim. Marilah kita pergunakan waktu ini sebaik mungkin dalam menuntut ilmu yang berkah. Walaupun kita telah melakukan kelima perkara sebelumnya tanpa yang keenam, maka akan terasa sia – sia. Dengan umur dan kesempatan yang panjang dalam menuntut ilmu, kita akan menjadi seorang mukmin yang diridhoi-NYA. Amin.

Insya Allah dengan memahami dan mengamalkan keenam perkara di atas, akan menjadikan kita seorang yang lebih menghargai ilmu, sehingga dapat kita amalkan dan pergunakan di jalan kebaikan yang diridhoi-NYA.

comments (1) | | Read More...
 
Tentang Dunia Insan Kamil | Hubungi Kami | Disclaimer
| Copyright © 2013. Dunia Insan Kamil . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger