News Update :
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Ilmu, Sesuatu Yang Belum Memiliki Judul

Published by : Unknown on Thursday, June 26, 2014 | 7:08 PM

Thursday, June 26, 2014

Oleh Averroes F Piliang

Dalam perkembangannya, ilmu dikategorikan menjadi beberapa bagian yaitu ilmu agama, ilmu dasar dan ilmu terapan. Ketiganya merupakan peletak dasar dari pembinaan karakter pada diri seseorang dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Inilah yang disebut dengan ilmu membentuk karakter seseorang dan ilmu menentukan masa depan suatu individu, kelompok atau dalam tingkatan yang lebih besar lagi yaitu peradaban suatu negara.

Persoalan yang ada bukanlah dari konteks ilmu itu sendiri, melainkan bagaimana ilmu itu berjalan pada diri manusia itu sendiri. Perjalanan seseorang dalam menggali ilmu itu, yang hari ini banyak yang tidak menyadari akan hal tersebut. Sehingga, ketika seseorang mendapatkan ilmu yang telah dia gali, orientasi di awal mengenai mendapatkan ilmu itu pun terdegradasi menjadi orientasi yang sifatnya praktis. Maka, tampaklah jelas hari ini akan terbentuk sebuah ketidakpercayaan diri pada manusia-manusia yang menggali ilmu tersebut. Secara garis besar, faktor socio-cultural dalam diri manusia akhirnya terdegradasi dan menuju kepada terkuantisasi.

Ilmu pada hirarkinya merujuk kepada sebuah kebenaran. Sesuatu yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan. Maka dari itu, ilmu yang didapat menuntut mereka (orang-orang yang mencari ilmu) untuk mencari kebenaran dari siapapun, kapanpun dan dimanapun tanpa mengenal suku, agama, ras ataupun golongan-golongan tertentu. Sehingga, dalam berilmu landasan berpikir manusia dalam menggali ilmu haruslah mencapai 4 pokok berikut.
 
Ontologis. Hakikat apa yang akan dikaji. Ontologis menurut pemahaman saya adalah sebuah nilai fundament dari sebuah ilmu, yaitu tahapan bidang keilmuan. Sebut saja seperti ilmu alam dan ilmu sosial. Hakikatnya kedua ilmu tersebut membicarakan persoalan interaksi manusia-alam-manusia ataupun manusia dengan manusia. Sehingga dengan adanya interaksi tersebut, maka ada ilmu-ilmu dengan pembagian secara khusus dari kedua ilmu tersebut. Namun, bedakan antara ilmu dengan agama. Ilmu lebih kearah hakikat apa yang dikaji, sedangkan agama sudah menyeluruh.

Epistomologis.
Dalam buku Jujun Suria Sumiantri, epistomologis secara arti kata dikatakan pendidikan. Maka, dalam pemahaman saya, epistomologis ini adalah sebuah proses dalam menyampaikan ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Mengapa demikian? Karena ilmu itu bersifat kebenaran, kebenaran tersebut haruslah diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, secara umum banyak yang mengatakan bahwa epistomologis ini adalah sebuah cara untuk mendapatkan pengetahuan dengan benar.

Etika. Kajian etika pada suatu hierarki ilmu ini identik dengan kata aksiologi, artinya periaku seseorang yang berilmu haruslah berlandaskan kebenaran. Sebelumnya diatas, telah disinggung mengenai ilmu secara ontologis dan epistomologis. Yaitu, sebuah hal yang mengarah kepada kebenaran, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Oleh karena itu, Berilmu itu haruslah memiliki Etika, atau dalam bahasa lain dikatakan, orang berilmu haruslah orang yang bermoral.

Estetika.
Dalam pengertian bahasa estetika berarti keindahan. Nah, disini lah saya pribadi agak sulit menjelaskannya. Mengapa? Karena satu hal melalui pertanyaan ini, dimana letaknya background ilmu yang kita pelajari ini indah? Kalau bagi saya dengan pemahaman fisika, keindahan ilmu fisika ini berasal dari apa yang disebut dengan Cosmos. Maka, dengan adanya pemahaman estetika akan mengarahkan kita kepada the art of science.

Empat makna substansial yang tertuang dalam buku Jujun Suriasumiantri ini merupakan peletak dasar hierarki ilmu yang kita jalani. Jadi, Seperti yang saya ungkapkan di atas bahwa, ilmu membentuk karakter seseorang. Maka, karakter seseorang bukanlah ditentukan bagaimana ia mampu bertahan dengan lika-liku kehidupan melainkan bagaimana ia mendapatkan ilmu yang telah ia jalani. Makna substansial ini lah yang pada akhirnya membentuk manusia yang mendapatkan ilmu (sarjana) melalui tiga hal penting yaitu, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Istilah yang selalu dikenal dan dikenang adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Namun, saya berpendapat istilah ini bukanlah didapat di tingkatan mahasiswa namun dalam tingkatan proses belajar. Ilmu dan moral dalam konteks memanusiakan manusia.
comments | | Read More...

Pohon kekerabatan yang dibuat-buat

Published by : Unknown on Sunday, May 4, 2014 | 6:46 PM

Sunday, May 4, 2014

Oleh Ardi Yusman

Disadur dari berbagai sumber

Pernyataan Darwinis (para pendukung teori Darwin) mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk hidup yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari lima atau enam juta tahun yang lalu, dinyatakan  bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sungguh dibuat-buat ini, ditetapkanlah empat kelompok dasar sebagai berikut:
  1. Australopithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)
  2. Homo habilis
  3. Homo erectus
  4. Homo saphiens

Genus yang dianggap sebagai nenek moyang manusia yang mirip kera tersebut oleh evolusionis (para pendukung teori evolusi Darwin) digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti “kera dari selatan”. Australopithecus, yang tidak lain adalah jenis kera purba yang telah punah, ditemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebih besar dan kuat (tegap), sementara yang lain lebih kecil dan rapuh (lemah).
"Adanya kesamaan yang jelas di antara keduanya adalah sebuah tanda yang nyata bahwa Australopithecus Afarensis itu spesies kera biasa, tanpa sifat-sifat manusia"
Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai “Australopithecus > Homo Habils > Homo Erectus > Homo Saphiens”, evolusionis secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya. Akan tetapi, penemuan terbaru ahli paleoanthropology mengungkap bahwa Australopithecines, Homo Habilis dan Homo Erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada saat yang sama.

Semua spesies Australopithecus adalah kera punah yang mirip dengan kera masa kini. Volume tengkorak mereka adalah sama atau lebih kecil daripada simpanse masa kini. Terdapat bagian menonjol pada tangan dan kaki mereka yang mereka gunakan untuk memanjat pohon, persis seperti simpanse saat ini, dan kaki mereka terbentuk untuk mencengkram dan bergelantung pada dahan pohon. Banyak karakteristik yang lain – seperti detail pada tengkorak mereka, dekatnya jarak antara kedua mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang, dengan lengan yang panjang, dan kaki yang pendek – merupakan bukti bahwa makhluk ini tidaklah berbeda dengan kera masa kini. Namun demikian, evolusionis menyatakan bahwa, meskipun Australopithecine memiliki anatomi kera, mereka berjalan tegak seperti manusia, tidak seperti kera pada umumnya.

Sebuah teori baru menyatakan bahwa genus Australopithecus bukanlah cikal bakal ras manusia… Hasil ini didapat dari satu-satunya wanita yang diberi kewenangan untuk meneliti, St W573 berbeda dari teori normal berkenaan dengan nenek moyang manusia : ini meruntuhkan pohon kekerabatan horminid. Primata besar, yang dianggap sebagai nenek moyang manusia, telah dihilangkan dari susunan pohon kekerabatan ini… Australopithecus dan spesies Homo (manusia) tidak muncul dalam cabang yang sama. Nenek moyang langsung manusia masih menunggu untuk ditemukan.
"Homo Erectus dan Manusia. Tonjolan besar alis pada tengkorak Homo Erectus, dan ciri-ciri seperti dahi yang condong ke belakang, bisa dilihat dalam sejumlah ras zaman sekarang, seperti orang-orang pribumi di berbagai belahan dunia"
Sebuah majalah ilmiah terkenal di Perancis, Science et Vie, mengakui ada dua kebenaran mengenai tidak adanya nenek moyang manusia yang berasal dari kera. Majalah perancis ini mengakui hal tersebut dengan menerbitkan judul sampul majalah mereka berupa “Selamat Tinggal Lucy” pada terbitan di tahun 1999 pada bulan Februari, dan mereka menegaskan bahwa Australopithecus tak bisa dijadikan sebagai nenek moyang manusia.
"Penemuan ilmiah telah membuat anggapan evolusionis tentang Lucy, yang kali pertama dijadikan sebagai contoh penting genus Australopithecus sama sekali tidak berdasar
Hal tersebut berdasarkan dua penemuan penting yaitu:
  1. Fosil yang disebut sebagai Homo Habilis sebenarnya bukan tergolong genus Homo, atau manusia, tetapi tergolong Australopithecus, atau kera.
  2. Homo Habilis dan Australopithecus adalah makhluk yang berjalan membungkuk ke depan – jadi bisa dikatakan mereka memiliki kerangka seekor kera. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan manusia.


comments | | Read More...

Teori Evolusi Darwin, "Sebuah Asal Usul Manusia Yang Terbantahkan"

Published by : Unknown on Monday, April 28, 2014 | 8:57 PM

Monday, April 28, 2014

Oleh Ardi Yusman

Disadur dari beberapa sumber

Charles Darwin seorang biologist mengajukan teori evolusi manusia dalam pernyataannya yaitu  manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama. Hal tersebut terungkap dalam buku Charles Darwin yang berjudul The Descent of Man, yang dipublikasi pada tahun 1871. Sampai saat ini, para pengikut Teori Evolusi Darwin telah mencoba untuk mendukung pernyataannya. Tetapi, meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, pernyataan mengenai “evolusi manusia” tidak adanya dukungan ilmiah yang berdasarkan penelitian dan penemuan yang nyata dalam bentuk fosil.

Sumber gambar mrpetsblogs.blogspot.com
Kebanyakan masyarakat biasa tidak menyadari kenyataan ini, dan berfikir bahwa teori yang dikemukakan oleh Darwin mengenai evolusi manusia didukung oleh banyak bukti yang kuat dan ilmiah. Salah satu penyebab adanya pendapat yang keliru ini adalah bahwa pesoalan ini sering dibahas dalam media serta proses pendidikan dihadirkan sebagai fakta yang terbukti ilmiah. Namun, para ahli dalam masalah ini menyadari bahwa tidak ada landasan ilmiah bagi pernyataan Darwin tentang teori evolusi manusia. David Pilbeam, ahli paleoanthropology dari Harvard University, mengatakan “Jika anda mengundang seorang ilmuwan dari bidang ilmu yang lain dan menunjukkan padanya sedikitnya bukti yang kita miliki ia tentu akan mengatakan”, “Lupakan saja; itu tidak cukup untuk diteruskan!”.
Tiada petunjuk ilmiah bagi pernyataan bahwa manusia berevolusi. Yang diajukan sebagai “bukti” tidak lebih dari ulasan sepihak atas sedikit fosil.
Dan William Fix, seorang penulis sebuah buku penting dalam bidang paleoanthropology berkomentar “Seperti yang telah kita lihat, ada banyak ilmuwan dan orang-orang populer saat ini yang memiliki nyali untuk mengatakan bahwa tidak ada keraguan tentang bagaimana manusia berasal. Tentunya, andai saja mereka memiliki bukti…

Pernyataan evolusi ini, yang “miskin akan bukti” yang secara ilmiah tidak masuk akal, memulai dengan adanya pohon kekerabatan manusia yang serumpun dengan kelompok kera dinyatakan dengan bentuk satu genus tersendiri, yaitu Australopithecus. Sehingga, menurut pernyataan ini, Australophitecus secara bertahap, diawali dengan kemampuan untuk berjalan tegak dan membesarnya kapasitas volume otak, ia melewati serangkaian proses perubahan dalam jangka waktu yang lama atau evolusi hingga mencapai tahapan manusia sekarang (Homo Sapiens). Tetapi, fakta fosil tidak mendukung scenario dari teori ini, meskipun ilmu pengetahuan menyatakan bahwa semua bentuk peralihan itu ada, tetapi antara manusia dan kera tidak dapat dilalui dengan menggunakan jejak fosil saja. Ernst Mayr, salah satu pendukung utama teori evolusi abad 20, berpendapat dalam bukunya One Long Argument bahwa “khususnya (teka-teki) bersejarah seperti asal usul kehidupan atau Homo Sapiens, adalah sangat sulit dan bahkan mungkin tidak pernah menerima penjelasan akhir yang memuaskan”.

comments (1) | | Read More...

Tanah dan Unsur Hara

Published by : Unknown on Tuesday, February 4, 2014 | 5:41 PM

Tuesday, February 4, 2014

Oleh Egyfaldi Biamenta (Artikel ini didedikasikan kepada Kakanda Rahmat Nasution S.Si Apt)

Tanah merupakan salah satu lapisan bumi yang terdapat pada permukaan bumi yang terdiri dari massa padat, air, dan udara. Tanah merupakan hasil pelapukan batuan dan bahan organik yang hancur akibat proses alam. Struktur tanah yang terbentuk secara berlapis dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : iklim, struktur permukaan bumi, tumbuhan, dan makhluk hidup yang berada diatasnya. 


Gambar lapisan tanah (http://www.gunungkidul.org/2012/05/struktur-bumi-dan-penjelasannya.html)

Lapisan tanah atas adalah lapisan yang berasal dari batu-batuan dan sisa makhluk hidup yang telah mati dan mengalami pelapukan. Lapisan ini merupakan bagian yang optimum untuk kehidupan tumbuhan. Lapisan tengah berasal dari batuan yang pada proses pelapukannya mengalami pengikisan oleh air sehingga bahan lapisan itu mengendap. Karena kandungan airnya banyak maka tanah pada lapisan tengah ini sangat liat sehingga lebih dikenal sebagai tanah liat yang berwarna merah atau putih. Lapisan bawah  adalah lapisan yang terdiri dari bongkahan-bongkahan batu dan bebatuan yang telah mengalami pelapukan di sela-selanya. Lapisan batuan induk tersusun dari bebatuan padat dan berada dalam lapisan terdalam bumi.

Struktur tanah terbentuk dari komposisi antara butir tanah dan ruang antar butir tanah (pori-pori). Struktur tanah yang baik bagi perakaran adalah apabila pori tanah berukuran besar (makropori) terisi udara dan pori tanah berukuran kecil (mikropori) terisi air. Tanah yang gembur memiliki pori yang cukup besar dengan makropori dan mikropori yang seimbang. 

Tekstur tanah menunjukkan proporsi relatif dari ukuran partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi pasir, debu, dan lempung. Berdasarkan teksturnya, tanah dapat dikelompokkan menjadi :
  • Tekstur kasar misalnya pasir, pasir berlempung.
  • Tekstur agak kasar misalnya lempung berpasir dan lempung berpasir halus
  • Tekstur sedang misalnya lempung berpasir sangat halus, lempung berdebu, debu
  • Tekstur halus misalnya tanah liat berpasir, tanah liat berdebu

Tekstur tanah berkaitan dengan kemampuan tanah untuk menahan air dan juga melakukan reaksi kimia tanah. Tanah bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga sulit untuk menahan air maupun unsur hara. Tanah bertekstur lempung mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus mempunyai kemampuan menyimpan air dan unsur hara bagi tanaman.

Banyaknya manfaat tanah, menjadikan tanah sebagai salah satu aspek yang penting untuk kehidupan. Berikut beberapa manfaat sumber daya tanah untuk kehidupan,  yaitu;
  1. Penyediaan unsur hara untuk tumbuhan. Ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produksi suatu tumbuhan. Jumlah dan jenis unsur hara yang tersedia di tanah dan dibutuhkan oleh tumbuhan haruslah sesuai dan seimbang.
  2. Penyedia makanan untuk biota tanah. Tanah menjadi habitat pengurai yang menguraikan sisa organisme mati menjadi bahan makanan yang dibutuhkan oleh tanaman dan organisme lain.
  3. Sebagai habitat hidup dan melakukan kegiatan. Tanah merupakan tempat manusia dan makhluk hidup lainnya melakukan kegiatannya. Di dalam tanah, hidup pula berbagai organisme tanah, misalnya cacing tanah.
  4. Sumber bahan baku barang kerajinan atau perabot rumah tangga. Kandungan tanah liat dapat dimanfaatkan manusia untuk membuat batu bata, barang-barang seni dan kerajinan, maupun alat-alat rumah tangga. Tanah liat juga dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai bahan baku genteng penutup atap rumah atau bangunan.
  5. Memiliki nilai ekologi, yaitu mampu menyerap dan menyimpan air, menekan erosi, serta menjaga kesuburan tanah.
  6. Memiliki nilai ekonomis yaitu sebagai aset yang dapat disewakan atau diperjual belikan
  7. Mengandung barang tambang atau bahan galian yang berguna untuk manusia.

Kesuburan tanah adalah kualitas tanah dalam kemampuannya untuk menyediakan unsur hara yang cocok dalam jumlah cukup serta dalam keseimbangan yang tepat dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan suatu spesies tanaman. Berdasarkan kesuburannya, tanah dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
  • Tanah muda adalah tanah yang kandungan zat makanan di dalamnya belum banyak sehingga kurang subur. 
  • Tanah dewasa adalah tanah yang kandungan zat makanan di dalamnya sangat banyak sehingga sangat subur.
  • Tanah tua adalah tanah yang kandungan zat makanan di dalamnya sudah berkurang sehingga kurang subur.
  • Tanah sangat tua adalah tanah yang kandungan zat makanan di dalamnya sangat sedikit sehingga hampir habis kesuburannya.

Ciri-ciri tanah subur ialah:
  • Tekstur dan struktur tanahnya baik, yaitu butir-butir tanahnya terlalu besar dan terlalu kecil.
  • Banyak mengandung mineral yang berguna untuk makanan tumbuhan.
  • Banyak mengandung air untuk melarutkan mineral.

Keadaan tanah yang baik untuk tumbuhan apabila mempunyai perbandingan komponen mineral 45%, bahan organik (mikroorganisme, akar, dan humus) 5%, air 25% dan udara 25%.

Kadaan tanah yang baik untuk tumbuhan (http://www.prescriptionsoilanalysis.com)

Unsur hara merupakan elemen penting untuk menopang pertumbuhan tanaman. Defisiensi unsur hara adalah kekurangan material yang berupa makanan bagi tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Unsur hara berasal dari pelapukan batuan dan senyawa organik yang hancur akibat proses alam.


Siklus nutrisi (unsur hara) tanah (www.pikeconservation.org)

Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda tergantung dari jenis tanamannya. Jika unsur hara dalam tanah tidak tersedia maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan kemungkinan tanaman akan mengalami kematian. Berdasarkan jumlah kebutuhannya bagi tanaman, unsur hara dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Unsur hara makro yaitu unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar, antara lain : karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), belerang (S).

Unsur hara mikro yaitu unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah kecil, antara lain : besi (Fe), mangan (Mn), boron (B), molibdenum (Mo), tembaga (Cu), seng (Zn) dan klor (Cl).

Unsur hara makro :
  • Nitrogen (N). Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman, merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, merangsang pertumbuhan vegetatif (warna hijau) seperti daun, merupakan bagian dari sel (organ) tanaman itu sendiri. Gejala defisiensi nitrogen ditandai dengan pertumbuhan tanaman yang lambat/kerdil, pembentukan daun tidak sempurna, daun-daun hijau cepat menjadi kuning dan mati, pembentukan buah tidak sempurna dan masak sebelum waktunya. Cara penanganan defisiensi nitrogen adalah dengan menambahkan pupuk kimia berupa urea, ZA, KNO3, NPK, dan pupuk daun dengan kandungan N tinggi.
  • Fosfor (P). Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman, merangsang pembungaan dan pembuahan, merangsang pertumbuhan akar, merangsang pembentukan biji, merangang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel. Gejala defisiensi fosfor ditandai dengan daun melengkung dan terpelintir, bagian bawah daun berwarna merah keunguan, terhambatnya pembentukan sistem akar dan buah. Cara penanganan defisiensi fosfor adalah dengan menambahkan pupuk kimia SP36, NPK, MKP, dan pupuk daun dengan kandungan P tinggi.
  • Kalium (K). Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim, mineral termasuk air dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit. Gejala defisiensi kalium ditandai dengan daun berwarna hijau gelap kebiruan dan tidak sehat, daun tampak seperti bergerigi dan akhirnya mati, ujung daun menguning kemudian menjadi bercak coklat, batang daun menjadi lemas/rebah, buah yang terbentuk tidak sempurna. Cara penanganan defisiensi kalium adalah dengan menambahkan pupuk kimia KCl, NPK, MKP, dan pupuk daun dengan kandungan K tinggi.
  • Sulfur (S). Berfungsi dalam pembentukan klorofil, pertumbuhan tunas, pembentukan beberapa jenis asam amino seperti sistein, metionin, tiamin, dan menjaga ketahanan tanaman terhadap penyakit. Gejala defisiensi sulfur ditandai dengan warna daun muda memudar menjadi hijau muda, kuning, atau putih, pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus. Cara penanganan defisiensi sulfur adalah dengan menambahkan pupuk kimia ZA, Phonska, dan pupuk daun dengan kandungan S tinggi.
  • Kalsium (Ca). Berfungsi dalam pembentukan dinding sel, pematangan buah, pertumbuhan akar dan daun. Gejala defisiensi kalsium ditandai dengan pertumbuhan kuncup yang terhenti dan mati, warna buah kurang sempurna, buah muda banyak yang rontok dan masak sebelum waktunya. Cara penanganan defisiensi kalsium adalah dengan menambahkan kapur dolomit, kalsium karbonat, dan pupuk kalsium.
  • Magnesium (Mg). Berfungsi dalam pembentukan klorofil, pertumbuhan tunas, dan pembentukan buah. Gejala defisiensi magnesium ditandai dengan pembengkokan tulang daun, warna daun berubah menjadi kuning dan terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Cara penanganan defisiensi magnesium adalah dengan menambahkan pupuk kimia kiserit, kapur dolomit, dan pupuk daun yang mengandung Mg.

Unsur hara mikro :
  • Besi (Fe). Berfungsi sebagai penyusun klorofil, pembentuk protein, aktivator enzim, berperanan dalam perkembangan kloroplas. Gejala defisiensi besi ditandai dengan penurunan aktivitas enzim, penurunan jumlah ribosom secara dramatis, penurunan kadar pigmen, pertumbuhan tanaman terhambat.
  • Mangan (Mn). Berfungsi sebagai komponen penting dalam proses asimilasi dan fotosintesis, aktivator enzim, mempertahankan warna hijau daun pada daun tua, pembentuk protein dan vitamin. Gejala defisiensi Mn ditandai dengan daun berwarna kekuningan atau kemerahan, pertumbuhan tanaman kerdil, jaringan daun di beberapa tempat mati, serta biji yang terbentuk tidak sempurna.
  • Boron (B). Berfungsi dalam pembelahan, pemanjangan dan diferensiasi sel, permeabilitas membran, perkecambahan serbuk sari, dan metabolisme asam nukleat, karbohidrat, protein, fenol, auksin. Gejala defisiensi boron ditandai dengan pertumbuhan pucuk akar terhambat, daun kering dan mati, batang keropos, buah yang sedang berkembang mudah terserang penyakit.
  • Tembaga (Cu). Berfungsi sebagai penyusun klorofil, aktivator enzim, berperan dalam metabolisme protein dan karbohidrat, berperan terhadap perkembangan tanaman generatif, berperan terhadap fiksasi N secara simbiosis dan penyusunan lignin. Gejala defisiensi Cu ditandai dengan terganggunya pembungaan, pembuahan, dan pertumbuhan tanaman, warna daun muda kuning dan kerdil, daun, batang, dan tangkai lemah dan layu.
  • Seng (Zn). Berfungsi sebagai aktivator enzim, berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji/buah. Defisiensi Zn ditandai dengan daun tua berwarna kekuningan atau kemerahan, daun mengecil, mengering dan akhirnya mati, tanaman kerdil, ruas-ruas batang memendek.
  • Molibdenum (Mo). Berfungsi sebagai aktivator enzim, berperan dalam fiksasi N oleh mikroba, katalisator dalam reduksi N. Defisiensi Mo ditandai dengan daun menjadi kering dan layu, warna daun memudar, pertumbuhan tanaman seolah terhenti dan akhirnya mati.
  • Klorida (Cl). Berfungsi dalam pemindah hara tanaman, fotosintesis, mencegah kehilangan air yang tidak seimbang, memperbaiki penyerapan ion lain. Defisiensi Cl ditandai dengan warna kecoklatan pada daun, pola percabangan akar abnormal, daun lemah dan layu.

Cara penanganan kekurangan unsur mikro adalah dengan menambahkan pupuk organik yang tinggi nutrisi, pemberian pupuk organik cair untuk pemupukan susulan, serta penyemprotan pupuk daun dengan kandungan unsur mikro lengkap.




comments | | Read More...

Manfaat Pohon Bagi Makhluk Hidup

Published by : Unknown on Saturday, December 21, 2013 | 10:54 PM

Saturday, December 21, 2013

Oleh Egyfaldi Biamenta

Pohon adalah makhluk hidup yang tidak dapat berjalan tetapi memberikan peran yang sangat penting bagi makhluk hidup yang berjalan. Manfaat pohon bagi kelangsungan hidup semua mahluk hidup di bumi ini sangatlah penting dan tidak bisa dikesampingkan. Tanpa pohon, tidak akan ada yang menghasilkan oksigen yang merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup. Semakin banyak pohon, maka semakin banyak pula oksigen yang dihasilkan. 

Manfaat pohon bagi kehidupan (http://edukasi.kompasiana.com)

Beberapa tahun belakangan ini, pesatnya pembangunan menyebabkan banyak pohon ditebang dan dikorbankan. Hilangnya satu pohon telah memutus mata rantai kehidupan. Beberapa jenis hewan berkurang jumlahnya dan hampir punah karena habitat mereka rusak. Penebangan pohon menyebabkan panas bumi meningkat, jumlah pasokan oksigen semakin berkurang dan tingkat polusi udara cenderung meningkat. Demikian pula jumlah pasokan air dalam tanah semakin berkurang sehingga mengakibatkan masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. 

Berbagai penelitian membuktikan, 1 hektar ruang terbuka hijau yang dipenuhi pohon besar menghasilkan 0,6 ton oksigen untuk 1.500 penduduk/hari (penelitian lainnya mengatakan 1 pohon besar menghasilkan oksigen 1,2 kilogram/hari), menyerap 2,5 ton karbon dioksida/tahun, menyimpan 900 m3 air tanah/tahun, mentransfer air 4.000 liter/hari, menurunkan suhu 5°C-8°C, meredam kebisingan 25-80 persen, dan mengurangi kekuatan angin 75-80 persen. Berikut adalah beberapa manfaat pohon bagi kehidupan manusia :

Produsen makanan bagi manusia. Di alam, tanaman memiliki posisi strategis, yaitu sebagai penyedia makanan atau produsen di dalam piramida makanan. Jika tanaman yang bertindak sebagai produsen terganggu keberadaannya atau bahkan terancam kepunahan, dapat dipastikan semua makhluk hidup lain pun akan terancam kepunahan pula.

Penyumbang oksigen terbesar. Oksigen adalah gas yang diperlukan manusia dan hewan untuk bernafas. Pada siang hari, pohon dapat menghasilkan oksigen dan dapat menyerap karbondioksida yaitu udara kotor hasil gas buangan sisa pembakaran. Jadi secara hygienis, pohon sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Mencegah erosi dan banjir. Pohon besar yang memiliki batang yang tinggi dan menjulang tentunya memiliki akar yang kuat dan panjang pula. Ketika hujan turun dengan lebatnya ke muka bumi ini, air yang jatuh tidak langsung mengalir begitu saja, tapi ikut terserap oleh akar pohon sehingga posisi tanah tetap kuat dan tidak mudah terkena erosi. Air hujan juga dapat tertahan di tanah di sekitar pohon sehingga mencegah terjadinya banjir.

Menjaga kesuburan tanah. Air hujan yang langsung jatuh ke tanah dapat menggerus lapisan tanah bagian atas yang berhumus dan subur sehingga mengakibatkan menurunnya kesuburan tanah. Bila permukaan tanah banyak ditanami pohon, saat hujan turun, butir - butir airnya tidak langsung menimpa permukaan tanah, tetapi ditahan oleh daun, ranting, dan batang pohon, sehingga mengurangi gaya gerus air terhadap tanah.

Membuat lingkungan menjadi lebih nyaman. Dengan banyaknya pohon, akan membuat udara disekitarnya sekitarnya menjadi sejuk dan nyaman. Pohon juga dapat memberikan perlindungan terhadap terik sinar matahari, angin kencang, penahan debu, serta peredam suara.

Makna pohon, erat kaitannya dengan keberadaan hutan yang merupakan tempat hidup, tumbuh dan berkembang biaknya beberapa jenis pohon. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan. 

Manfaat hutan bagi kehidupan (http://indonesiaindonesia.com)

Hutan memiliki banyak fungsi yang sangat bermanfaat untuk kehidupan makhluk hidup di muka bumi, yaitu fungsi ekologis, fungsi hidrolis, fungsi klimatologis, dan fungsi ekonomi. Makhluk hidup sangat memerlukan hutan untuk kelangsungan hidupnya. Hutan merupakan paru-paru dunia sehingga perlu dijaga karena jika hutan rusak akan membawa dampak yang buruk bagi makhluk hidup. Gundulnya hutan dapat menyebabkan abrasi terhadap tanah, banjir bandang, dan tanah longsor.  


comments (1) | | Read More...
 
Tentang Dunia Insan Kamil | Hubungi Kami | Disclaimer
| Copyright © 2013. Dunia Insan Kamil . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger